MALUKUnews, Ambon: Merasa kurang transparan dengan semua mekanisme Perusahan Daerah (PD) Panca Karya, serta menganggangap ada tindakan korupsi terhadap semua hak-hak pegawai disana, ketua Bidang Pengawas Rury Moenandar, melakukan aksi coret-coret dinding kantor dengan tulisan korupsi dan perampok.

Dari hasil pantauan Kabar Timur di lapangan, Rabu (21/3) kemarin, Rury yang melakukan aksi seorang diri memprotes direktur Panca Karya Afras Pattisahusiwa, menuliskan berbagai kata tuduhan seperti, “Bayar segera hak-hak kami, kembalikan uang hasil, malu dong jadi perampok,” tulisnya didinding kantor Panca Karya.

Rury yang berhasil diwawancarai sejumlah media mengaku, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk akumulasi kekecewaan pimpinan-pimpinan daearah yang dengan tenang melihat tindakan, ketidak transparan diperusahan milik daerah itu.

“Ini akumulasi dari kekecewaan terhadap para pemangku jabatan di daerah ini. Mestinya mereka sudah ambil kebijakan terhadap semua manipulasi yang terjadi dikantor ini. Dan saya menganggap ini telah terjadi proses pembiaran dan manipulasi disini,” jelasnya.

Dia menegaskan, permasalahan ketidak transparan sistem yang terjadi di Panca Karya, sudah dilaporkan kepada pemerintah daerah dan DPRD Maluku. Namun sampai detik ini belum ada tanggapan atau balasan dari laporan itu.

“Ini ada apa? Mereka kenapa tidak bisa menindaklanjuti semua laporan kami. Pada saat kami melaporkan, baik DPRD maupun di pemerintah daerah, pasti mereka hanya bertanya, ‘Ini ada apa,” jelasnya.

Dia berharap pemerintah dan DPRD bisa datang melihat semua permasalahan tersebut. Pasalnya, sudah dua tahun, seluruh pegawai Panca Karya tidak mendapatkan biaya jasa produksi, yang merupakan hak mereka.

“Disini sudah ada tindakan korupsi berjamaah. Pemerintah harus segera datang menyelesaikan masalah ini. Sebab, disini hak-hak kita sudah dua tahun tidak kami dapatkan, dan itu semua uangnya dimana kalau bukan dimakan sendiri,” tegasnya.

Dia menilai, pemerintah harus segera turun langsung menyelesaikan masalah tersebut. Pasalnya, banyak program Panca Karya yang fiktif, dengan menghabiskan banyak anggaran di kantor Panca Karya ini.

“Berbagai kegiatan mendatangkan narasumber dari Jakarta yang dilakukan Panca Karya itu semuanya fiktif. Ada lagi kwitansi minyak dari pemasok minyak itu semuanya bohong. Itu mereka lakukan hanya untuk mengambil uang kantor ini. Silahkan tanya kepada si Afras itu dimana uang-uang itu,” tegasnya.

Terpisah, Direktur Panca Karya Afras Pattisahusiwa mengatakan, aksi yang dilakukan Rury sangat disesali, lantaran telah bergeser jauh pada kode etik perusahan yakni menjaga rahasia masalah internal perusahan.

“Saya sesali langkah Pak Rury, beliau sudah mengumbar semua persoalan perusahan. Padahal sesuai mekanisme kalau beliau merasa ada yang salah, beliau bisa mengajukan pertemuan guna dibahas bersama, tidak perlu seperti ini,” jelasnya.

Menyoal hak-hak pegawai Panca Karya yang dinilai tidak diberikan, dia mengaku, setiap perusahan memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus dimengerti oleh semua pegawai, begitu juga masalah hak.

“Perusahan ini kan pemasukannya tidak selalu begitu-begitu saja, kadang naik-kadang turun. Dan kalau turun kami selalu memberikan pengertian kepada semua pegawai disini agar dapat memahami, dan mereka semua tidak keberatan, mengapa beliau yang merasa dirugikan. Memangnya siapa yang makan uang kantor ini,” paparnya.

Dia mengaku, tidak takut dengan ancaman Rury untuk melaporkannya atas ketidaknetralan sistem. Pasalnya, sambung dia, selama menjabat Direktur Panca Karya, dirinya sudah melakukan semua sesuai menejemen dan prosedur.

“Silahkan saja beliau lapor. Saya tidak khawatir, sebab dalam perusahan ada sesuatu yang tidak bisa diberitahukan dan ada yang bisa diberitahukan. Masa semua urusan perusahan harus diumbar, itu kan jadi rahasia perusahan. Silahkan saja lapor, yang jelas saya sudah menjalankan tugas sesuai aturan,” tutup. (Seumber: Koran Kabar Timur)