MALUKUnews, Dobo: Beberapa guru yang mengabdi di SD Negeri Trans Maijuring, Kepulauan Aru, Maluku, sudah dua tahun tidak pernah menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang pendidik alias tak masuk kerja. Kelima guru tersebut berinisaial HS sebagai kepala sekolah, RU, MB, RA,LT dan PG. Mereka adalah guru bantu pada SD tersebut.

Ketidakhadiran kelima guru ini dinilai sangat merugikan para siswa-siswi yang mengecap pendidikan di desa Trans Maijuring. Warga setempat juga tidak pernah mengetahui alasan ketidak hadiran para guru ini. Karena saat ini ada kemungkinan mereka berada di Dobo ibu Kota Kabupaten.

Beberapa orang tua siswa yang enggan namanya di publikasi kepada media ini, Selasa (17/02) menjelaskan, bahwa para guru yang bertugas di SD Negeri Trans Maijuring sudah dua tahun tidak melaksanakan aktivitas belajar-mengajar. Bahkan mereka tidak pernah lagi terliaht batang hidungnya di Desa Trans Maijuring.

Eba Latulola, salah satu orang tua siswa mengatakan, ketidakberad aan para guru ini sendiri membuat masyarakat dan orang tua siswa kecewa,karena mereka selalu menerima hak mereka dari pemerintah namun tak pernah menjalankan kewajiban mereka untuk mengajar. “Pemerintah su bayar dong pu gaji tapi dong seng pernah datang mangajar,dasar guru seng tau diri, makan gaji buta, mo seng mangajar batul-batul”ujar Eba dengan dialek daerahnya dengan jengkel.

Ironisnya lagi salah satu guru yang berinisial LT mengirim SMS kepada salah satu orang tua siswa yang mengatakan, “ Biar katong seng mengajar yang penting dapa gaji tiap bulan saja kok. Buat apa urusin anak sekolah,” demikian bunyi SMS itu.

SMS ini kemudian ditunjukan orang tua siswa tersebut kepada sebagian besar warga Desa Trans Maijuring dan membuat mereka naik pitam. Melihat kondisi yang memprihatinkan ini warga desa meminta kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menutup sekolah tersebut karena untuk apa sekolah didirikan tanpa ada tenaga guru. Lebih baik ditutup saja, biking apa ada sekolah kalau guru seng ada, lebih bai Bupati ka Kapala Dinas tutup saja boleh katong cari akal pi kasih skolah ana-ana di manakah”ujar orang tua bernada sedikit miring.

Terkait persoalan ini apakah pihak Dinas pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Aru akan mengambil langka,ataukah hanya diam dan menutup mata menghadapi para pendidik yang gagal mengajar tapi tak perna gagal dalam menerima gajinya.(Gus)