MALUKUnews, Ambon: Pasca gempa tektonik 5,4 SR yang mengguncang Kecamatan Ambalau, Kabupaten Bursel, tercatat 1.535 warga kini tinggal di pengungsian.

Warga memilih mengungsi dengan membangun tenda seadanya di lapangan terbuka dan juga ada yang menempati fasilitas umum yang masih memungkinkan untuk ditempati.

“Pengungsi saat ini tercatat 307 KK yang terdiri yang 1.535 jiwa. mereka semua tersebar di 7 desa. Sementara korban yang luka-luka itu 12 orang, dan 1 orang meninggal itu di Desa Masawoy,” jelas Kepala BPBD Maluku Farida Salam­pessy kepada Siwalima di Kantor Gubernur, Senin (18/1).

Menurutnya, berdasarkan laporan terakhir yang diper­oleh BPBD Maluku tercatat 288 unit rumah mengalami keru­sakan dan 191 dianta­ranya rusak berat. “Sebe­lumnya ada 218 sekarang sudah bertam­bah menjadi 288 unit rumah yang rusak. Jadi setelah pe­ngecekan langsung di lapa­ngan ada revisi data tam­bahan 70 rumah yang rusak,” katanya.

Dijelaskan, di Desa Ulima terdapat 106 unit rumah yang rusak berat dan 5 unit yang rusak ringan ditambah satu masjid juga turut rusak, Desa Masawoy (59 unit rumah rusak berat dan 21 unit rumah rusak ringan), Desa Siwar (10 unit rumah rusak), Desa Lumoy (34 unit rumah rusak ringan ditambah dengan 8 rumah rusak berat), Desa Kampung Baru (18 unit rumah yang rusak ringan dan 8 unit rumah rusak berat).

Sementara itu, untuk Desa Selasih (3 unit rumah rusak), dan Desa Elara (16 unit rumah rusak).

Menurut Salampessy, war­ga hingga kini masih trauma, sehingga lebih memilih untuk mengungsi diluar rumah. “Sam­pai sekarang warga ma­sih mengungsi di area ter­buka, karena mereka takut berada di dalam rumah,” ujarnya.

Sementara itu Gubernur Maluku Said Assagaff telah menginstruksikan Kepala BPBD Provinsi Maluku sege­ra ke lokasi bencana, Selasa (19/1) guna mendistribukan bantuan.

“Esok kita akan ke Ambalau dibawah pimpinan Kepala BPBD Maluku. Mereka akan melihat langsung kondisi terakhir pasca gempa,” kata­nya kepada wartawan.

Dikatakan, pemerintah akan mengutamakan kebutuhan masyarakat disana, terutama yang rumahnya rusak berat. “Langsung ke sana agar tahu kondisinya secara nyata. Kita akan utamakan semua kebu­tuhan masyarakat,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, gempa tektonik tersebut terjadi pukul 08.22 WIT dengan lokasi berpusat 98 km timur Namrole atau 63 km arah selatan Namlea pada keda­laman 10 km. Tak lama kemu­dian ada gempa susulan yang terjadi pada pukul 09.25 WIT. Gempa berkekuatan 2,7 SR itu berpusat di 104 km timur Namrole dan 49 kg tenggara Namlea.

Gempa susulan berikutnya terjadi pada pukul 15.07 WIT. Gempa berkekuatan 2,8 SR itu terjadi di posisi 104 km timur Namrole dan 49 km tenggara Namlea pada kedalaman 10 km.

Kendati tak berpotensi menimbulkan tsunami, namun gempa tersebut telah melu­luh­lantahkan ratusan rumah di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Bursel.

“Gempa tersebut terjadi di timur laut Pulau Ambalau dan dilaporkan kerusakan rumah disana cukup parah. Untuk itu, BMKG memprediksikan disana getaran mencapai IV-V MMI. Sementara itu, di kota Namlea dan Namrole yang terdeteksi adalah III MMI. Di Kota Ambon juga terasa getarannya hanya I-II MMI saja. Ini berdasarkan laporan dari masyarakat kepada BMKG,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi, BMKG Maluku, Kustoro Hariyat­moko kepada Siwalima di Ambon, Minggu (17/1).

Gempa sendiri menurutnya dirasakan cukup kuat karena terjadi pada hiposenter yang dangkal dan penyebab gempa adalah adanya aktivitas pada sesar/robekan mendatar di sekitar laut banda. Hal ini selanjutnya membuat akumu­lasi tekanan dalam sesar yang kemudian dilepaskan melalui gempa. (siwalima)