MALUKUnews, Ambon: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bursel berwe­nang menangani pembangu­nan rumah masyarakat se­tempat yang sempat rusak akibat gempa tektonik ber­kekuatan 5,4 SR yang me­landa daerah itu beberapa waktu lalu.

Kepala BPBD Maluku, Fa­rida Salampessy menegas­kan, provinsi hanya sebatas koordinasi dengan peme­rintah kabupaten. Tapi me­nyangkut penanganan seka­ligus proses bantuan pemba­ngunan rumah atau sarana lainnya menjadi tanggung jawab kabupaten.

“BPBD Bursel yang ber­wenang untuk mengurusi hal tersebut. BPBD kabupa­ten itu harus bertanggung­jawab tentang segaal sesuatu ter­kait bencana yang menimpa daerahnya, sambil berkoor­dinasi dengan provinsi,” kata Salampessy kepada Siwa­lima di sela-sela acara rapat Forum Regional Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat yang berlangsung di Islamic Center, Ambon Kamis (31/3).

Menurutnya, penanganan korban bencana menjadi tanggung jawab seluruh elemen, namun demikian, masalah pembangunan sarana se­perti rumah masyarakat yang rusak dan lain-lain itu menjadi tanggung jawab pemerintah kabupaten.

“Itu adalah tanggung jawab mereka, karena bantuan yang diberikan langsung kepada BPBD Bursel, bukan BPBD Provinsi. Kalau mereka merasa kesulitan maka BPBD Provinsi akan membantu,” ung­kapnya.

Dijelaskan, untuk mendapatkan bantuan rumah bagi korban bencana harus ada SK bupati kalau daerah tersebut termasuk tanggap darurat bencana. Surat tersebut menjadi dasar untuk mengusulkan ke pusat untuk mendapatkan bantuan.

Meski demikian, Salampessy mengaku semua persyaratan telah dilakukan oleh Pemkab Bursel. Hanya saja untuk masalah teknis selanjutnya menjadi kewenangan pemkab dan bukan pemprov.

Sebelumnya diberitakan, BPBD Provinsi Maluku dituding lambat atasi korban gempa Ambalau. Hingga saat ini para korban gempa tektonik berkekuatan 5,4 SR itu belum menerima bantuan.

Anggota DPRD Maluku Dapil Buru-Bursel, Bachtiar La Galeb mengklaim BPBD lambat dalam mengatasi permasalahan tersebut. Menurut La Galeb, masyarakat yang rumahnya mengalami rusak berat dan ringan sampai sekarang masih tinggal di tempat-tempat peng­ungsian.

“Pada saat terjadi bencana, baik pemprov dalam hal ini BPBD Maluku maupun BNPB turun langsung untuk melihat dampak yang ditim­bulkan dari bencana tersebut. Tetapi sayangnya sampai hari ini, belum ada tindaklanjut yang nyata dari mereka,” pungkas Galeb.

Dikatakan, bencana merupakan hal yang tidak direncanakan dan efeknya harus segera ditanggulangi. Prosedur penanganan seharusnya juga tidak berbelit-belit sehingga menyebabkan kesulitan prosedur pengucuran bantuan terhadap korban bencana. Namun pada kenyataanya sangat ironis, karena setelah sebulan berlalu bantuan tak kunjung turun.

“Kami berharap pemprov dalam hal ini BPBD leih cepat menangani kondisi masyarakat disana. Supaya ada tindaklanjut baik dari kabupaten maupun provinsi agar penanganan korban bencana ini dapat menjadi perhatian,” ujarnya.

Warga Kecamatan Ambalau, Kabupaten Bursel yang terkena dampak gempa tektonik 5,4 SR meminta pemerintah segera mem­bangun rumahnya.

Permintaan itu disampaikan saat pertemuan antara Pemprov Maluku dengan masyarakat setempat, di Ambalau, Selasa (19/1).

Kepala BPBD Maluku Farida Salampessy kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Rabu (20/1) mengatakan, sejak pemprov bersama tim gabungan instansi terkait tiba di Ambalau, Selasa (19/1), langsung dilakukan penyaluran bantuan

Dikatakan, saat tim dari peme­rintah provinsi tiba, langsung disalur­kan bantuan kepada masyarakat. “Kita juga langsung gelar pertemuan. Banyak masyarakat yang meng­inginkan agar rumah mereka bisa dibangun kembali,” katanya.

Menurutnya, rumah masyarakat akibat dari gempa sangat menyedih­kan, pasalnya tak sedikit dari rumah masyarakat yang kondisi bangunan­nya miring sehingga perlu di reno­vasi.

Sementara itu, hingga kini kata­nya, perwakilan Dinas PU dan BNPB masih melakukan identifikasi rumah. Dimana selesai identifikasi maka bisa didapat data berapa rumah yang akan diperbaiki dan akan diberikan bantuan. “Bantuannya tergantung, mau di kasi dalam bentuk uang bisa, bisa juga dikasi dalam bentuk bahan. Jadi nanti dilihat usai identifikasi,” tandasnya.

Adapun hasil yang ditemukan dilapangan menurut Salampessy, masih sama dengan data sebelum­nya, dan hingga kini tidak ada penambahan korban, hanya saja ada beberapa korban yang sempat dievakuasi ke RSUD Haulussy Ambon karena kondisi mereka.

Menurutnya, saat pertemuan ada warga yang mengeluhkan tak adanya tenaga kesehatan. Banyak tenaga kesehatan yang masih ada di ibukota kabupaten. Akan tetapi, Salampessy mengatakan, pemprov kemarin telah membantu merawat korban yang ada dengan bantuan 5 orang dokter yang dibawa dari Ambon. Ia mengakui bahwa telah dievakuasi salah satu korban bencana sejak Selasa (19/1) ke RSUD dr. Hau­lussy.

Sementara itu, pasca gempa tektonik 5,4 SR yang mengguncang Kecmatan Ambalau, Kabupaten Bursel, tercatat 1.535 warga kini tinggal di pengungsian. Selain itu, tercatat 288 unit rumah mengalami kerusakan dan 191 diantaranya rusak berat. (siwalima)