MALUKUnews, Namlea: RA, 22 tahun, mengadukan dua pamannya ke Polres Buru, pada Senin pagi (4/9) karena tega menidurinya dengan terlebih dahulu mengancam akan mengedarkan foto bugil milik korban yang jatuh ke tangan pelaku. Kedua pelaku ini satu warga sipil berinitial RL, dan satu oknum anggota Kepolisian Bripka AM, anggota Polsek Kepala Madan.

Dengan temani ayahnya pa Alor dan paman dekatnya kakak kandung dari ibunya, Jamin Ngadihu, darah berparas ayu ini mendatangi Mapolres Buru. Mereka sempat ke SPK guna mengadukan masalah tersebut. Namun karena ada terlibat satu oknum polisi yang bertugas di Polsek Kepala Madan, maka korban dibawa untuk dibuat laporan dan diambil keterangan di Propam Polres Buru.

Sedangkan esok (hari ini) baru korban diambil dibuatkan laporan dan diambil keterangan ulang oleh petugas polisi, terkait dengan satu pelaku lagi yang warga sipil. Kasatreskrim Polres Buru, AKP Mohamnad Riyan Citra Yudha kepada wartawan di ruang kerjanya mengatakan kalau laporannya belum sampai di reskrim. Namun pihaknya berjanjii siap menangani perkara tersebut terkait dengan warga sipil RL setelah dilimpahkan ke Reskrim.

Sementara itu, RA ditemani kakak kandung dari ibunya, Yamin Ngadihu usai melapor membeberkan di hadapan wartawan kejadian pengacaman, pemerasan yang berlanjut dengan hubungan suami istri . Kejadian pertama kali berlangsung di akhir tahun 2014 lalu oleh paman jauhnya yang warga sipil, RL, 38 tahun.

Semua berawal dari gadis berparas ayu ini kehilangan hp saat mengendarai motor di kampung halamannya di Desa Biloro, Kecamatan Kepala Madan, Buru Selatan. Hp yang diletakan di saku celananya terjatuh di jalan. Di dalam hp ada dokumentasi foto bugil milik korban. Hp itu ditemukan oleh RL alias Rudy yang sehari-hari dipanggil bapa tenga. Gadis ini mengaku yang menjepret sendiri foto bugil saat sendirian di kamar tidur. Dan tak ada niat menyebarkan foto privasi itu ke umum.

Namun setelah menemukan hp tersebut yang terdapat foto bugil, sang paman ini memanggil ponakannya lalu memeras RA. Ia mengancam akan mengedarkan foto2 syur tersebut kalau RA tak mengikuti maunya.

Dengan bermodal foto syur itu, RL membawa RA ke satu penginapan dekat SDN 2 Namlea dan berhasil menggarap gadis ayu yang masih punya hubungan kekerabatan dengannya. Menurut pengaduan RA, semula ia sempat menolak, tapi donjuan dari Biloro ini tetap memaksanya dengan mengancam menyebarkan foto milik korban.

RA yang tak tahan dengan tindakan bejat itu, akhirnya memilih mengadu ke istri RL. Ia mengaku RL mengoleksi foto syur miliknya dan pernah ditiduri pelaku serta terus dipaksa untuk kembali melakukan hubungan suami istri.

Namun RL yang ditanya istrinya menyangkal telah berbuat tidak senonoh dengan RA. Ia hanya membenarkan menyimpan foto syur RA. Mungkin karena dendam atas kicauan RA ke istrinya, diam-diam RL membocorkan kisah hubungan terlarang berikut foto syur itu kepada oknum Bripka AM, anggota Polsek Kepala Madan.

Kemudian pada bulan Nopember 2016 lalu, Hp milik RA berdering ada pesan dari nomor baru yang ternyata milik Bripka AM. Gadis ini diminta datang ke kantor polsek menemui AM karena ada yang melapor soal foto bugil milik RA.

Karena RA tak mau datang, bripka AM mengirimkan surat panggilan dan gadis ini akhirnya datang ke kantor Polsek. Ia sempat ditanya-tanya soal foto syur itu dan ditakuti ada perintah dari Polres Buru agar menetapkan RA sebagai tersangka kasus foto bugil yang konon sudah beredar luas di masyarakat.

Setelah pertemuan di polsek itu, RA diminta datang ke rumah di malam hari dengan alasan akan menandatangani BAP dan korban sudah ditetapkan sebagai tersangka. Korban lalu diminta masuk ke kamar dan ditakut-takuti telah ditetapkan sebagai tersangka. Korban sempat menghibah dengan memanggil pamannya itu dengan sebutan bapa tenga agar jangan meneruskan masalah itu ke pengadilan.

Korban meminta akan berbuat apa saja, termasuk mencuci pakaian kotor milik bapak tengahnya. Namun bripka AM meminta yang lain. Ia mendesak korban agar mau melakukan hubungan suami istri. Akhirnya perbuatan mesum paman dan ponakan itu terjadi."Bikin beta sama dengan RL," ucap korban menirukan ucapan oknum polisi ini.

Korban baru tahu kejadian di rumah bripka AM itu ternyata diketahui RL. Karena esoknya RL menelepon dan menanyakan hal itu. Setelah peristiwa Nopember 2016 itu, korban terus dirundung ketakutan, karena donjuan RL selalu menerornya di banyak kesempatan. Bahkan pamannya yang polisi juga sekali-kali ikut menakut-nakutinya.

Akhirnya korban yang selalu ceria dan suka selalu bepergian dengan teman-temannya itu memilih berdiam diri di rumah. Korban terlihat murung karena tertekan. Bahkan korban sempat mencoba bunuh diri. Namun ditolong oleh keluarganya. Kasus yang terbungkus rapih ini akhirnya terbongkar, setelah ortu korban melihat anaknya terus murung dan seperti tertekan.

Akhirnya tanggal 2 September lalu, atau sehari setelah lebaran, korban membuka mulut telah ditiduri dua orang pamannya yang masih erat tali persaudaraan dari ibunya. Mendapatkan berita tak terduga itu, keluarga bapaknya tak terima baik dan sempat mencari RL dan Bripka AM. Tapi keduanya kebetulan tak berada di Biloro.

Situasi sempat memanas di Desa Biloro, karena keluarga dari bapak sempat mencari keluarga dekat kedua pelaku untuk balas dendam. Namun kakak dari ibu korban, termaduk Yamin Ngadihu berhasil menenangkan mereka. Yamin akhirnya memilih mengungsikan ponakannya berikut ayahnya ke kota Namlea dan mengadukan masalah itu ke polisi. Sebelum ke Polres Buru, RA sempat dikirimi beberapa pesan SMS bernada ancaman oleh bripka AM. Ia diminta agar mengurungkan niat datangi polres.

Sedangkan RL pun ikut mengirimkan pesan SMS tengah malam. Ia meminta pula agar jangan memperpanjang masalah ke polisi dan mengakui perbuatannya, serta bersedia diadili saja di dalam keluarga. (Cal)