MALUKUnews, Ambon: Habis manis sepah dibuang, begitulah bunyi pepatah yang bisa disematkan kepada Bupati Kabupaten Buru Ramli Umasugi.

Setelah terpilih memimpin Kabupaten Buru periode kedua, Bupati Ramly lupa akan janji manisnya saat kampanye tahun 2017 lalu.

Ketika itu, Ramli yang juga ketua DPD II Partai Golkar Buru berjanji akan memperbaiki kondisi jalan lintas Batabual-Waeapo yang rusak.

Di hadapan ribuan masyarakat Kecamatan Batabual, Ramli berjanji akan menghotmix jalan lintas tersebut dalam 100 hari kerjanya sebagai Bupati Buru periode kedua.

Omong kosong orang nomor satu di Kabupaten Buru itu ditagih oleh Pergerakan Mahasiswa Kecamatan Batabual (Pemkab Student Association) Pimpinan Wilayah Maluku. Di depan Polsek Sirimau, Ambon, Senin (26/2), para mahasiswa ini menggelar demonstrasi menagih janji Bupati Ramli.

Ironis, jangankan memperbaiki, setelah dilantik untuk periode kdua, Bupati Ramly tidak mau melintasi jalur darat saat berkunjung ke Batabual. Dia lebih memilih menempuh jalur laut menggunakan speedboat.

Koordinator Demonstrasi, Ramly Lapandewa menyebutkan, kondisi jalan lintas Batabual-waeapo sepanjang puluhan Km itu memperihatinkan. Infrastruktur darat itu masih berupa jalan sertu.

“Beliau janji, mau hotmix itu jalan, tetapi sampai saat ini tidak direalisasikan. Bahkan kami masyarakat Batabual belum pernah rasakan melintas di jalan aspal. Di jalan tersebut sampai saat ini sejak 18 tahun pasca pemekaran kabupaten Buru,” ungkap dia.

Masyarakat di Batabual menuntut agar Bupati Ramli merealisasikan janji manisnya saat kampanye.

Menurut Lapandewa, jalan lintas Batabual-Waeapo memiliki peran penting untuk mendukung arus transportasi demi kemakmuran rakyat sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan Pasal 5 ayat (1), ayat 2 dan ayat 3.

Kebijakan pembangunan oleh Pemkab Buru yang dipimpin Ramli dinilai tidak menunjukkan perkembangan berartia. Malahan masyarakat pedesaan di kecamatan Batabual justru semakin termarginalkan.

Pendemo juga menyuarakan krisis listrik di Batabual. Sampai saat ini masyarakat di pesisir selatan Batabual belum belum menikmati penerangan listrik PLN meskipun pada tahun 2014 lalu, PT PLN wilayah Maluku-Malut dan Pemkab Buru telah menyepakati pendirian PLN di Batabual.

Setelah PLN hadir di daerah itu pun, kata dia, manfaatnya belum maksimal dirasakan masyarakat. Listri hanya dinimkati sebulan dua kali. “Padahal pembiayaan subsidi 1 ton minyak solar dan satu unit tanki mampu menampung 50 ton BBM tiap hari dan anggarannya dari APBD juga. PLN di sana punya dua unit mesin tapi tidak difungsikan lagi,” ungkap Lapandewa.

Dalam aksinya, pendemo menyampaikan lima tuntutan. Yaitu, pertama, masyarakat Batabual menuntut janji bupati Ramli menghotmix jalan Batabual-Waeapo. Kedua, meminta gubernur Maluku memperhatikan jalan lintas dan menaikkan statusnya menjadi jalan nasional. Ketiga, PT. PLN wilayah Maluku-Malut diminta mengambil alih status PLN Ranting Kecamatan Batabual yang masih ditangani oleh Pemkab Buru. Keempat, sikap tegas DPRD Provinsi Maluku agar membahas jalan lintas Batabual-Waeapo. Dan kelima, meminta kepala Balai Jalan memperioritaskan pembangunan jalan lintas Batabual-Waeapo. (RUZ)

Sumber: Harian Kabar Timur