MALUKUnews, Ambon: Aktifitas penambangan emas di gunung botak Kabupaten Buru segera ditutup, menyusul maraknya penggunaan zat berbahaya seperti mercury.

Dalam waktu dekat Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, akan kembali melakukan sosialisasi terkait bahaya penggunaan sianida dan mercury kepada seluruh penambang emas di gunung botak.

“ Untuk hal ini, kita akan melakukan kerja sama dengan pemerintah kabupaten setempat dan aparat keamaan, sehingga tidak ada lagi penambang yang melakukan proses penambangan, ” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Vera Ellen Tomasoa, Kemarin.

Dikatakan, sosialisasi bahaya sianida dan mercury yang dilakukan ini merupakan lanjutan dari sosialisasi yang dilakukan di tahun 2010 dan 2017.

Selain bahaya penggunaan mercury dan sianida, pihaknya juga akan memulangkan penambang dari luar daerah ke daerah masing-masing.

Sementara itu, Pakar Lingkungan Dari Universitas Pattimura, Dr. Yusthinus Thobias Male, mengatakan untuk mengantasi hal tersebut perlu dibentuk krisis center dengan melibatkan semua stakeholder.

“ Tidak perlu lagi dilakukan sidak sama saja, setelah sidak penambang kembali beroperasi. Seperti main kucing-kucingan, sama halnya dengan penertiban PKL oleh Satpol PP, setelah penertiban besoknya PKL kembali beraktifitas. Untuk itu diperlukan krisis center,”ujarnya.

Selain itu, perlu ada ketegasan terkait penutupan pertambangan emas gunung botak sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, agar terhindar dari penggunaan mercury dan perlu dilakukan pengawasan terhadap semua rendaman limbah sehingga tidak menimbulkan gejolak bagi yang menggunakan sianida. (JA)