MALUKUnews, Ambon: Akademisi Universitas Pattimura Dr. Yusthinus Thobias Male, mengatakan, bakal akan terjadi ledakan bencana di kabupaten Buru, jika tidak ada penanganan secara komprehensif terhadap pertambangan emas di Gunung Botak yang sudah semakin memprihatinkan.

Ledakan bencana, kata dosen jurusan MIPA, seperti dilansir dari koran kabar timur, hari ini, akibat penyebaran merkuri yang digunakan untuk pengelolaan emas sudah berdampak terhadap lingkungan sekitar, baik itu sungai, potensi laut, pertanian, peternakan bahkan manusia.

Yusthinus melakukan penelitian tahun 2014, dengan mengumpulkan ikan dan potensi laut yang dijual di pasar. Hasilnya, semua ikan sudah terpapar merkuri. Mulai ikan tatihu, bia, siput, kerang semua sudah tercemar.

Lebih parah, sampel rambut yang diambil dari lima perempuan di Kayeli terbukti terkena dampak mercuri, namun belum ada penelitian terkait janin apakah terkena dampak atau tidak.

“Penilitian yang dilakukan baru sebagian, bukan secara keseluruhan, karena dibutuhkan penelitian yang lebih komprehensif. Namun dari hasil penelitian terhadap beberapa sampel yang diambil terbukti mengandung merkuri,” ujar Yusthinus menyampaikan materi dalam sosialisasi bahaya penggunaan sianida dan mercury di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Ambon, Selasa (20/3).

Sungai di kawasan pertambangan Gunung Botak yang tercemar, yakni Anahoni, Kayeli, Wailata dan Waiapu. Dari keempat sungai tersebut, Anahoni memiliki tingkat keparahan yang lebih besar.

“Kami sudah bicarakan hal ini dengan gubernur dan bupati Buru, namun tidak ada langkah konkret yang diambil. Jika tidak akan terjadi ledakan bencana, dan kami ilmuan tidak bisa buat apa-apa lagi, kecuali mengangkat korban jiwa,” ujar dia. (Qin/KTM)