MALUKUnews, Ambon: Penambangan di Gunung Botak, yang kian meresahkan menyusul peredaran bahan kima berbahaya mercury dan sianida kini mengancam kehidupan masyarakat di Kabupaten Buru itu.

Sebanyak dua puluh tokoh masyarakat Buru harus bergerak cepat untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat yang ada disana. Mereka mendatangi kantor gubernur dan bertemu dengan Wakil Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua. Mereka kemudian mengutarakan keresahan mereka dihdapan Sahuburua terkait peredaran bahan kimia berbahaya itu.

Raja Petuanan Kayeli, Abdullah Wael yang juga kepala Soa dan didampingi LSM Pemerhati Lingkungan, Selasa, kemarin, memimpin kedua puluh tokoh masyarakat itu untuk bertemu wakil gubernur itu. Mereka melakukan rapat tertutup bersama Wagub membahas masalah tambang Gunung Botak yang meresahkan itu. Lebih dari dua jam mereka bersama Wagub.

“ Kondisi wilayah yang dipimpinya saat ini sudah gawat. “Status gunung botak dan wilayah di sekelilingnya saat ini gawat. Kami minta supaya pemerintah provinsi Maluku dan pusat harus bertindak tegas untuk menutup aktifitas di gunung botak itu,” ujarnya. Dikatakan, keresahaan masyarakat termasuk dirinya sudah diambang batas. “Kami hanya ingin pemerintah berlakukan hukum tegas bagi para penambang ilegal yang menggunakan mercuri dan sianida untuk tangkap, dan menghentikan semua aktifitas pertambangan ilegal itu,” pintahnya seperti dikutif dari koran kabar timur, hari ini.

Menurut Wael, kegiatan pertambangan ilegal yang dilakukan oknum-oknum tertentu menggunakan sianida dan merkuri masih berlangsung. Kegiatan yang seolah dibiarkan negara ini sangat mengancam kehidupan masyarakat disana. “Kami datang kesini hanya untuk meminta ketegasan pemerintah,” pintah Abdullah.

Ada oknum-oknum yang bermain di Gunung Botak mengedar sianida dan merkuri, namun Abdullah Wael, menolak mengungkap siapa oknum-oknum yang dimaksudkan itu. “Saya tidak mau ungkap. Tapi, oknum-oknum ada dan berkeliaran di Gunung Botak,” bebernya.

Ruslan Arif Soamole Ketua LSM Parlemen Jalanan Kabupaten Buru, menambahkan masyarakat adat di Kayeli dan daerah Wamsait meminta agar oknum-oknum tersebut segera ditangkap. “Kami berharap negara lewat aparat penegak hukum segera menangkap meraka. Ini soal ancaman kehidupan masyarakat Buru,” tambahnya meminta.

Warga adat sudah tidak ingin daerah Kayeli dan Wamsait umumnya tercemar merkuri dan sianida sehingga mneyebabkan korban jiwa dan kerusakan lingkungan. “Kami bersama kepala soa datang ke Ambon. Tujuan kami tidak mau lagi wilayah kami tercemar limbah merkuri karena sudah berjatuhan korban jiwa maupun ternak, bahkan air minum sudah tidak bisa kami gunakan,”sambungnya. (Qin/KTM)