MALUKUnews: Menangis kerap diidentikkan dengan anak-anak. Seiring usia bertambah, manusia dewasa umumnya mendapati dirinya lebih sedikit menangis ketimbang masa kanak-kanak dulu.

Akan tetapi, bukan berarti manusia dewasa tak boleh menangis. Sebab sesuatu yang menyentuh ranah emosi, atau menghadapi tekanan batin, biasanya orang akan menangis.

Studi menunjukkan, rata-rata wanita dewasa cenderung menangis dua hingga tiga kali dalam sebulan, sedangkan pria hanya sekali.

Melansir dari laman Science Alert, 2 Desember 2018, para ilmuwan telah lama berspekulasi mengapa kita menangis dan apa yang terjadi di dalam tubuh ketika air mata berurai membasahi pipi.

Ada anggapan bahwa menangis dapat membuang bahan kimia yang terbangun selama perasaan tertekan. Ada pula yang mengatakan menangis menyebabkan perubahan kimia dalam tubuh yang mengurangi stres sehingga meningkatkan perasaan positif. Benarkah demikian?

Leah Sharman, kandidat PhD Sekolah Psikologi dari The University of Queensland, telah meneliti apakah menangis dapat mengurangi tingkat hormon stres (kortisol). Ia ingin mengetahui apakah menangis memberikan beberapa manfaat fisik lainnya, seperti mati rasa, yang dapat menjelaskan mengapa kita menangis saat berhadapan dengan rasa sakit emosional maupun fisik.

Ternyata, Leah menemukan bahwa menangis tidak berpengaruh pada tingkat stres. Menangis juga tidak dapat membuat rasa sakit mereka lebih ringan ketimbang tidak menangis. Namun, dengan menangis, orang lebih bisa mengendalikan laju pernapasannya.

Penelitian Leah itu mengungkapkan bahwa ketika seseorang menangis, ia dapat mengatur napas sebagai strategi untuk menenangkan diri.

Yang penting diingat adalah, menangis merupakan bagian dari mengekspresikan emosi, bukan bagian dari mengalami emosi. Jadi, wajar saja jika orang dewasa menangis, kecuali jika terlalu sering, mungkin Anda memerlukan bantuan dari psikolog. (viva.co.id)