MALUKUnews: Tak sedikit anak-anak mengalami kesulitan belajar. Dokter spesialis anak RS PKU Muhammadiyah Solo Rusmawati mengatakan keseilitan belajar pada anak dibagi dua ada kesulitan belajar general dan spesifik.

Dia mencontohkan, anak yang sudah ada kelainan seperti autis, gangguan pemusatan perhatian (ADHD), maupun cerebral palsy (CP) akan mengalami kesulitan. Hal itu biasanya karena ada kelainan syaraf di otaknya.

Namun, ada juga kelainan belajar spesifik misalnya disleksi, diskalkulia maupun disgrafia itu juga bisa menyebabkan anak sulit belajar. Disleksi merupakan kesulitan anak dalam huruf.

Upaya menangani gangguan belajar spesifik, lanjutnya, cukup lebih diulang-ulang saja dan belajarnya lebih banyak dibanding yang biasa. Menurutnya, anak-anak tersebut tidak bodoh hanya seperti agak bingung.

Sedangkan anak yang mengalami kelainan khusus seperti autis, ADHD serta CP itu perlu penanganan multidisiplin. Diperlukan kerjasama antara guru, orang tua, dokter, psikolog dan terapis-terapis untuk menganai anak dengan kelainan khusus.

Sementara itu, psikolog Rina Jayanti menyatakan, kesulitan belajar anak-anak zaman dulu dan sekarang berbeda. Zaman dulu belum ada gawai. Sekarang, kondisi kesulitan belajar diperparah dengan adanya gawai. Selain itu, kebanyakan pola asuh orang tua mencari cara agar anaknya diam, kemudian diberikan ponsel. Jika anak sudah memegang ponsel, maka tidak akan bergerak kemana-mana.

"Padahal usia-usia anak nol sampai lima tahun itu usia emas dalam perkembangan dimana dia membutuhkan stimulasi yang mestinya didatangkan dari orang-orang sekelilingnya," kata Rina, dalam diskusi Peran Orang Tua dan Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak di Era Milenial tersebut digelar di Aula Baitul Hikmah RS PKU Muhammadiyah Solo, Sabtu (1/12).

Pada usia tersebut, lanjutnya, anak-anak butuh berinteraksi, ada hubungan sosial timbal balik yang menstimulasi kemampuan kognitifnya. Namun, sekarang yang terjadi, anak-anak diserahkan pembantu kemudian diberikan gawai. Hal itu menyebabkan anak hidup dalam dunianya sendiri sehingga menghambat proses stimulasi.

Untuk mencegah hal tersebut, orangtua harus mengenali pertama kali kesulitan-kesulitan yang terjadi pada anak. Anak-anak memiliki beberapa tahap perkembangan. Misalnya ketika berusia satu tahun paling tidak bisa mengucapkan satu kata. Jika anak sudah berusia dua tahun tapi tidak bisa berbicara, maka orangtua harus refleks segera membawa ke dokter atau psikolog. (republika.co.id)