MALUKUnews, Jakarta: Sekalipun belum ada data nasional tentang kejadian penyakit ginjal kronis (PGK), khususnya pada anak, data Ikatan Dokter Anak Indonesia menemukan 212 anak dari 14 Rumah Sakit di Indonesia mengalami gagal ginjal dan harus menjalani terapi pengganti ginjal pada 2017. Hal tersebut harus menjadi perhatian dari masyarakat.

Selama ini, gangguan ginjal lebih sering dikaitkan sebagai penyakit yang dialami orang dewasa saja. Faktanya kondisi tersebut juga saat ini sudah dialami anak-anak.

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr. Eka Laksmi Hidayati mengatakan, anak yang memiliki gangguan ginjal seringkali terlambat dibawa untuk pemeriksaan. Hal ini membuat kondisinya menjadi lebih parah, serta menyulitkan penyebab dari kegagalan ginjal tersebut.

"Data RSCM menunjukkan 22 persen pasien datang dengan kondisi stadium akhir," kata Eka di gedung Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta pada Selasa (13/11/2018).

"Kalau pasien datang lebih awal, kemungkinan kami bisa mencegah terjadinya gagal ginjal yang harus membutuhkan cuci darah. Artinya jika masih ada penyakit aktif yang bisa kita terapi, artinya kita akan secara agresif memberikan terapi, agar bisa mencegah terjadinya gagal ginjal. Minimal yang membutuhkan transplantasi ataupun cuci darah," tambah Eka yang juga tergabung dalam IDAI tersebut.

Data kasus PGK pada anak sendiri sangatlah terbatas. Data global yang dikutip Kementerian Kesehatan menunjukkan, sekitar 18,5 hingga 58,3 per satu juta anak menderita penyakit ginjal. 70 persen di antaranya akan mengalami gagal ginjal dalam 20 tahun ke depan.

Sementara, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi penduduk Indonesia yang penderita PGK sebesar 3,8 persen atau 4 per seribu penduduk. (liputan6.com)