MALUKUnews: Semakin banyak orang kesepian, semakin besar risiko kesehatan timbul. Hampir sepertiga orang Amerika, khususnya usia tua kesepian kronis, terkait dengan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kondisi mental memburuk, depresi, dan berujung masuk ke panti jompo dan meningkatkan kunjungan ke dokter.

"Kesepian adalah masalah kesehatan masyarakat paling mendesak yang dihadapi banyak negara saat ini," kata Asisten Profesor Klinis Gerontologi di College of Public Health University of Georgia, Kerstin Emerson, dilansir dari Health Day, Selasa (8/1).

Studi terbaru menunjukkan kesepian adalah faktor risiko kematian dini yang sebanding dengan merokok atau kecanduan alkohol. Kesepian, sebut Emerson tidak hanya dialami orang yang hidup sendiri.

"Orang-orang yang terisolasi secara sosial lebih cenderung kesepian. Namun, orang-orang yang sudah menikah atau bersama keluarga sekali pun bisa kesepian. Kesepian itu tidak ada diskriminasinya," sebut Emerson.

Sayangnya sulit mengidentifikasi orang yang kesepian, tidak seperti penyakit diabetes yang bisa didiagnosis lewat sampel darah. Satu-satunya cara mengukur kesepian adalah dengan bertanya atau mengajukan serangkaian pertanyaan kepada mereka yang kesepian, kemudian mengukur skalanya.

Kesepian bisa sulit diobati karena penyebab dan solusinya berbeda pada masing-masing orang. Kesepian adalah masalah personal dan solusinya bersifat individual.

Ada terapi yang bisa membantu orang yang kesepian membangun keterampilan sosial. Ada layanan rumahan, di tempat ibadah, hingga pusat-pusat tertentu.

Selama musim liburan, orang yang kesepian sering terjebak dengan perasaan dirinya dengan kebutuhan akan kehadiran keluarga. Solusi bagi mereka tak selalu dengan mengajak liburan.

"Sekadar panggilan halo, komunikasi di telepon, interaksi langsung adalah bantuan besar bagi mereka yang kesepian," kata Emerson. (republika.co.id)