MALUKUnews, Jakarta: Salah satu bahan masakan untuk mengolah daging pada saat perayaan Idul Adha adalah santan. Bila mencampurkannya, hidangan yang disajikan jadi terasa gurih.

Namun, ketika hendak memasak makanan dengan santan, sejumlah ketakutan menghantui seperti kolesterol dan LDL naik. Tapi, apakah ketakutan itu sebenarnya berdasar? Seberapa berbahayakah santan bagi tubuh manusia? Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor Profesor Dr Ir Ali Khomsan mengatakan, santan merupakan lemak nabati.

Kandungan dan khasiatnya berbeda dengan lemak hewani seperti yang terkandung pada ayam. “Karena perbedaan sifat, santan tidak bisa dikatakan sebagai lemak jenuh yang jahat seperti pada lemak hewani. Jadi kalau ada pandangan yang mengatakan bahwa santan sebagai lemak jahat itu harus diluruskan,” kata Ali saat dihubungi Kompas.com, Jumat (31/8/2017).

Ali menjelaskan, dalam timbulnya penyakit kolesterol, perlu dipahami sumber datangnya kolesterol itu sendiri, antara lain dari lemak jenuh dan kolesterol dalam darah. Asupan karbohidrat berlebih, lanjut Ali, sebenarnya juga berperan dalam meningkatkan kolesterol.

“Kalau sering makan makanan berlemak tinggi, potensi kolesterol jadi lebih cepat. Tapi lemak yang paling jahat ya lemak hewani,” kata Ali.

Jika ketakukan kolesterol karena santan hanyalah mitos. Perhatian berikutnya tertuju pada pertambahan berat tubuh. Hal itu dibenarkan oleh Ali. Sebagai sumber kelori, lemak pada santan bisa menaikkan berat tubuh.

Meski demikian, Ali meyarankan untuk membuat variasi masakan.santan berlebihan tetap tidak baik. Jangankan santan, garam berlebihan saja berefek buruk bagi tubuh, seperti meningkatkan tekanan darah.

“Tubuh kita perlu asupan yang beragam. Tidak dibombardir dengan masakan yang sudah berlemak. Semua makanan kalau dikonsumsi berlebihan pasti menimbulkan dampak negatif meskipun pada awalnya orang mengatakan makanan itu baik,” ujar Ali. (kompas.com)