MALUKUnews: Baru-baru ini, dunia dihebohkan dengan keputusan pengadilan di Los Angeles yang memenangkan kasus Eva Echeverria (63), seorang wanita asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang menuntut perusahaan yang terkenal dengan produk bedak bayi Johnson & Johnson.

Pengadilan menganggap bahwa bedak bayi produksi perusahaan tersebut terbukti dapat menyebabkan kanker ovarium.

Meskipun pada tahun 2007 Eva didiagnosis menderita kanker ovarium, ia tetap melanjutkan penggunaan bedak bayi tersebut. Ketika mendengar berita bahwa bedak bayi yang ia gunakan pada area kewanitaannya tersebut disinyalir dapat menyebabkan kanker ovarium, barulah ia menghentikan penggunaannya pada tahun 2016.

Pengadilan memutuskan bahwa Johnson & Johnson harus membayar 417 juta dolar Amerika (setara dengan 5,4 triliun rupiah) kepada Eva. Nominal tersebut adalah jumlah terbanyak sepanjang sejarah pertikaian antara bedak bayi Johnson & Johnson dengan kanker ovarium.

Bukan yang Pertama

Kasus Eva bukanlah yang pertama dihadapi oleh Johnson & Johnson. Sekitar 1700 tuntutan telah dilayangkan kepada Johnson & Johnson, merujuk pada kasus bedak bayi yang menyebabkan kanker ovarium.

Sebelum kasus Eva, kejadian serupa dialami oleh Lois Slemp, seorang wanita asal Virginia. Pengadilan di St. Louis, Missouri, Amerika, juga telah memutuskan bahwa Johnson & Johnson harus membayar sejumlah nominal yang fantastis atas kasus Lois.

Sebanyak 110,5 juta dolar Amerika (setara dengan 1,4 triliun rupiah) harus dibayarkan kepada Lois Slemp, yang menderita kanker ovarium sejak tahun 2012 karena penggunaan bedak bayi Johnson & Johnson.

Lois Slemp mengaku telah menggunakan bedak bayi Johnson & Johnson untuk menjaga kebersihan area kewanitaannya selama 40 tahun.

Melihat begitu banyaknya kasus kanker ovarium yang dikaitkan dengan penggunaan bedak bayi di area kewanitaan, benarkah bedak bayi tersebut dapat menyebabkan kanker ovarium?

Diawali oleh sebuah penelitian pada tahun 1971 oleh seorang ilmuwan Inggris, yang mendapati adanya hubungan antara kejadian kanker ovarium dengan penggunaan bedak bayi pada area kewanitaan.

Bedak bayi terbuat dari talk atau bedak halus, yang komposisinya antara lain terdiri dari mineral magnesium dan silika. Bedak bayi yang diproduksi sebelum tahun 1973 memang ditemukan mengandung asbes, yakni mineral yang dapat menyebabkan kanker.

Namun setelah tahun 1973, telah dikeluarkan peraturan bahwa produsen bedak bayi harus mengeluarkan kandungan asbes dari produknya dan menjamin bahwa bedak bayi tersebut bebas dari asbes.

Setelah peraturan tersebut keluar, beberapa penelitian dalam skala besar pun dilakukan untuk mencari kebenarannya. Sebuah penelitian menemukan bahwa bedak bayi dapat meningkatkan risiko kanker ovarium.

Meskipun begitu, ada pula penelitian yang mendapati bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan bedak bayi dengan kanker ovarium.

Lebih Baik Berhati-hati

Hingga saat ini penelitian yang ada belum mendapati hasil yang pasti. Oleh sebab itu, belum dapat dipastikan apakah bedak bayi dapat menyebabkan kanker ovarium atau tidak.

Meskipun demikian, belajar dari kasus Johnson & Johnson di atas, ada baiknya agar Anda berhati-hati dalam penggunaan bedak bayi pada area kewanitaan Anda. Hindari penggunaan bedak bayi tanpa disertai konsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan agar Anda terhindar dari penyakit kanker ovarium. NP/ RVS

Sumber: klikdokter.com