Oleh: Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten, Alumnus Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Univ. Paramadina)

MALUKUnews: Kementerian Luar Negeri RI menyesalkan cuitan akun twitter Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osamah Muhammad Al-Suaib (@Os_alshuibi‏), yang menyebut Reuni 212 adalah reaksi terhadap pembakaran bendera oleh organisasi yang menyimpang. Kita mengapresiasi langkah Kemenlu. Organisasi pusat manapun pasti kecewa jika badan otonomnya disebut menyimpang, GP Ansor adalah Badan otonomnya PB NU.

Menyadari kesalahannya, twit itu segera dihapus oleh Dubes Saudi, kemudian diubah menjadi “Berkumpulnya jutaan manusia dalam rangka persatuan Islam, rakyat berkerjasama dalam rangka menjaga keamanan nasional”. Untuk twit revisi ini, kita ucapkan terima kasih atas apresiasi Dubes Arab Saudi terhadap Reuni 212, yang memang pantas diapresiasi karena tertib, bersih serta penuh kedamaian. Dubes Saudi juga mengunggah beberapa foto yang menggambarkan membludaknya peserta Reuni 212.

Sebelum Dubes Saudi, kesalahan cuitan di twitter juga pernah dilakukan Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik pada 19 November 2017. Moazzam Malik lewat akun twitternya @MoazzamTMalik menulis “Selama perjalanan ke Papua kami menyewa 12 mobil. Tidak ada satupun sopirnya yang asli Papua. Apakah mereka berhak mendapatkan pekerjaan?”.

Twit Dubes Inggris ketika itu sangat tidak elok, karena disampaikan di tengah penyanderaan warga oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, meninggalnya Brigadir Polisi Firman karena ditembak KKB Papua serta upaya pembebasan sandera oleh TNI dan POLRI. Twit Dubes Inggris itu semakin memanaskan situasi dan menjurus pada provokasi yang memberi angin segar kepada Kelompok Kriminal Bersenjata Papua.

Mengapa ketika itu Kemenlu RI tidak menegur Dubes inggris?. Dengan tingkat kesalahan seperti itu harusnya Kemenlu memanggil Dubes Inggris untuk dimintai klarifikasi seperti yang dilakukan kepada Dubes Saudi saat ini. Di sini Kemenlu kurang konsisten. Meskipun kita banyak utang dan ketergantungan, tapi jika keutuhan NKRI diotak-atik kita harus bersikap tegas.

Sampai hari ini, 4 Desember 2018, Dubes Inggris tidak menghapus twit provokatif itu, meskipun sudah diprotes oleh Pemuda Muhammadiyah dan orang Papua.

Terakhir, harus diakui video pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu rawan sekali disalahpahami. Video itu sudah menyebar ke mana-mana dan sangat berbahaya jika ditonton mereka yang minim informasi, baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, Afrika atau belahan dunia manapun. Karena itu, mari kita bergotong-royong meluruskan informasi terkait video tersebut.

Masalahnya, video itu sulit dihapus, karena apapun yang diunggah di internet abadi selamanya. Semoga ini benar-benar dijadikan pelajaran bagi oknum GP Ansor. Saya menduga yang membakar maupun para pendukung pembakaran tidak mengira dampaknya sebesar ini bahkan mendunia. Kakek nenek kita sudah bekerja keras membangun citra Islam Indonesia itu damai, janganlah dirubuhkan.

Yuk mari sama-sama kita belajar mana simbol, mana kalimat suci yang dihormati semua orang di dunia. Hati-hati, jangan sampai kita sesama anak bangsa diadu seperti jangkrik.

Upaya menjadikan kita jangkrik itu sangat sistematis. Sebelum menyelesaikan tulisan ini, saya melihat poster yang memposisikan seolah-olah FPI itu musuhnya NU. NU dan FPI itu bersaudara. Sampai kapan kepala kita mau saja dibentur-benturkan seperti jangkrik?. Mari maju bersama, Salam Kesadaran. (Hariqo, Kampus UI Depok, 4 Desember 2018)Oleh: Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten, Alumnus Pascasarjana Jurusan Hubungan Internasional Univ. Paramadina)

Kementerian Luar Negeri RI menyesalkan cuitan akun twitter Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osamah Muhammad Al-Suaib (@Os_alshuibi‏), yang menyebut Reuni 212 adalah reaksi terhadap pembakaran bendera oleh organisasi yang menyimpang. Kita mengapresiasi langkah Kemenlu. Organisasi pusat manapun pasti kecewa jika badan otonomnya disebut menyimpang, GP Ansor adalah Badan otonomnya PB NU.

Menyadari kesalahannya, twit itu segera dihapus oleh Dubes Saudi, kemudian diubah menjadi “Berkumpulnya jutaan manusia dalam rangka persatuan Islam, rakyat berkerjasama dalam rangka menjaga keamanan nasional”. Untuk twit revisi ini, kita ucapkan terima kasih atas apresiasi Dubes Arab Saudi terhadap Reuni 212, yang memang pantas diapresiasi karena tertib, bersih serta penuh kedamaian. Dubes Saudi juga mengunggah beberapa foto yang menggambarkan membludaknya peserta Reuni 212.

Sebelum Dubes Saudi, kesalahan cuitan di twitter juga pernah dilakukan Dubes Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik pada 19 November 2017. Moazzam Malik lewat akun twitternya @MoazzamTMalik menulis “Selama perjalanan ke Papua kami menyewa 12 mobil. Tidak ada satupun sopirnya yang asli Papua. Apakah mereka berhak mendapatkan pekerjaan?”.

Twit Dubes Inggris ketika itu sangat tidak elok, karena disampaikan di tengah penyanderaan warga oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, meninggalnya Brigadir Polisi Firman karena ditembak KKB Papua serta upaya pembebasan sandera oleh TNI dan POLRI. Twit Dubes Inggris itu semakin memanaskan situasi dan menjurus pada provokasi yang memberi angin segar kepada Kelompok Kriminal Bersenjata Papua.

Mengapa ketika itu Kemenlu RI tidak menegur Dubes inggris?. Dengan tingkat kesalahan seperti itu harusnya Kemenlu memanggil Dubes Inggris untuk dimintai klarifikasi seperti yang dilakukan kepada Dubes Saudi saat ini. Di sini Kemenlu kurang konsisten. Meskipun kita banyak utang dan ketergantungan, tapi jika keutuhan NKRI diotak-atik kita harus bersikap tegas.

Sampai hari ini, 4 Desember 2018, Dubes Inggris tidak menghapus twit provokatif itu, meskipun sudah diprotes oleh Pemuda Muhammadiyah dan orang Papua.

Terakhir, harus diakui video pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu rawan sekali disalahpahami. Video itu sudah menyebar ke mana-mana dan sangat berbahaya jika ditonton mereka yang minim informasi, baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, Afrika atau belahan dunia manapun. Karena itu, mari kita bergotong-royong meluruskan informasi terkait video tersebut.

Masalahnya, video itu sulit dihapus, karena apapun yang diunggah di internet abadi selamanya. Semoga ini benar-benar dijadikan pelajaran bagi oknum GP Ansor. Saya menduga yang membakar maupun para pendukung pembakaran tidak mengira dampaknya sebesar ini bahkan mendunia. Kakek nenek kita sudah bekerja keras membangun citra Islam Indonesia itu damai, janganlah dirubuhkan.

Yuk mari sama-sama kita belajar mana simbol, mana kalimat suci yang dihormati semua orang di dunia. Hati-hati, jangan sampai kita sesama anak bangsa diadu seperti jangkrik.

Upaya menjadikan kita jangkrik itu sangat sistematis. Sebelum menyelesaikan tulisan ini, saya melihat poster yang memposisikan seolah-olah FPI itu musuhnya NU. NU dan FPI itu bersaudara. Sampai kapan kepala kita mau saja dibentur-benturkan seperti jangkrik?. Mari maju bersama, Salam Kesadaran. (***)