Oleh: Syaf Lessy (Penulis Muda Maluku)

MALUKUnews: Tanah air adalah sebuah buku yang terbuka, setiap generasi harus mengisinya dengan karya, Tinggal tunggu waktu lahirnya generasi pencipta, mereka yang akan harumkan Indonesia dengan karya"

Sebuah tagline dari Seorang Najwa Shihab, Duta Baca Indonesia, dengan semangat memanggungkan Indonesia, dan menggelorakan semangat generasi muda dari seluruh pelosok negeri di Nusantara. Sebuah karya klasik terhadap pemahaman konfrehensif yang melihat generasi muda sebagai prinsip dasar bangunan massa depan Indonesia.

Selama ini produksi wacana Generasi muda sebagai Representasi Normalitas sebuah perubahan, pada dasarnya mencoba menegasikan ruang perdebatan sosial, yang merupakan suatu expresi kepercayaan publik didalam mengemban kebanggaan nasionalisme sebuah bangsa.

sebagai mentalitas bangsa pada prinsipnya generasi muda memberikan kecenderungan terhadap, praksis perubahan di dalam ruang ruang sosial, yang menafsirkan peluang perubahan kepada masyarakat untuk proses pengembangan modal pembaharu (Agent of Change) dan pemahaman baru tentang konsepsi keindonesiaan jauh lebih baik.

Ruang sejarah tentunya banyak menceritakan dan mengembangkan pemahaman terkait realitas keberadaan generasi muda, sebagaimana dirkursus mengenai rubrik tanah air yang pernah di lewati, di dalam mengejewantahkan wawasan sejarah kebangsaan dan keindonesiaan dengan kehadiran generasi muda didalam serangkaian sejarah perjuangan bangsa.

Dirkursus perihal generasi muda pada prinsipnya tentu kita akan mencoba menarasikannya pada tataran realitas kepemudaan itu sendiri, yang mempunyai simbol simbol pembaharu terhadap interaksi sosial dalam merealisasikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

ada serangkaian narasi kolektif yang coba di gaungkan, jika keberadaan generasi muda pada kenyataannya berkembang sebagai Kekuatan Intelektual terhadap kecenderungan hegemoni yang di gerakkan berdasarkan kongkrit ideal komparasi generasi muda itu sendiri.

Kajian dan wacana perihal generasi muda tentu didalam rangkaian perjalanan bangsa ini, menekankan generasi muda di dalam narasi pembangunan, yang menawarkan orientasi etis perjuangan intelektual, gagasan membangun hingga interaksi dialektika penggerak sebagai elemen modal sosial.

Bagaimana Kondisi Generasi Muda Sekarang ?

pertanyaan yang cukup menggelitik pemikiran semua komponen bangsa ini, ada gambaran kritis yang mewakili realitas keberadaan generasi muda, hal ini terkonfirmasi dengan semakin menguatnya kehilangan identitas pembaharu dan semakin merosotnya Idealisme yang memberikan kecenderungan terhadap kondisi disorientasi pembangunan manusia Indonesia , berdasarkan jajak pendapat, sembari mengiyakan bahwa, generasi muda sekarang telah kehilangan identitas.

Secara kristis mungkin banyak dari kita sering mendengar istilah Agent of Change, agenda of control, yang di sering di gaungkan oleh generasi muda, sebuah gagasan namun juga merupakan posisi bagi Generasi muda untuk mendesain kekuatan kekuatan sosial, didalam mempengaruhi ruang struktur sosial pun semakin menghilang. Sehingga memunculkan kondisi apatisme yang terjebak pada hedonistik konsumtif.

Proses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi tantangan terbesar bagi generasi muda saat ini. Generasi mileneal merupakan istilah yang di sematkan bagi generasi sekarang. Ada sebuah kenyataan sosiologis yang terbangun, meminjam argumentasinya Jean Baudrillard tentang sisi-sisi kebudayaan postmodern dewasa ini, sebagai gejala dari Simulasi dan Hiperealitas. Dimana kita melihat bahwa hampir sebagian besar generasi muda terjebak pada narasi-narasi Virtual yang mendiami realitas semu.

Generasi muda cenderung massa bodoh dengan hiruk pikuknya dinamika politik bangsa saat ini, yang pada prinsipnya membutuhkan peran partisipatif dan kontrol dari generasi muda sendiri. Sebab lebih mengejar dan memprioritaskan kebebasan hedonistik dengan format pergaulan bebas, yang masih menjamur didalam pemikiran generasi muda.

Ada kemunduran yang di rasakan hal ini terlihat dengan semakin menguatnya kemenduaan Identitas, sebagian besar generasi muda Mindsetnya, yang penting Eksis di Sosial media, banyak follower/Viewer, Kampus sebagai ruang kontestasi Model dengan kebanggaan Merk/Brand, Nongkrong di Cafe, Jco, KFC, Starbuck dengan teman teman, Budget Pas-pasan Jiwa Sosialita.

Ketika kita di berikan tanggungjawab untuk mengimajinasikan massa depan Indonesia di massa yang akan datang. maka dengan spontan boleh di katakan bahwa Indonesia sedang mendidik generasi muda

yang gagal. Hal ini tentunya akan berdampak buruk bagi massa depan Indonesia. sebap negara negera di belahan dunia sudah berpikir bagaimana negera nya bisa maju dengan sumber daya manusia generasi muda yang mumpuni dan handal. Di negeri ini persoalan generasi muda masih menggurita dan menggerogoti dinamisasi kehidupan bangsa saat ini.

Secara telaah Sosio historis kita tahu bahwa Konsep Indonesia sebagai sebuah negara, pada realitasnya berangkat dari proses panjang sejarah pergulatan pemikiran generasi muda. Semoga hal ini tidak menjadi euforia massa lalu. (***)