Oleh: Roni Tabroni ( Dosen Jurnalistik Universitas Sangga Buana YPKP & UIN SGD Bandung )

MALUKUnews: Jika ada hal yang paling berpengaruh dalam membangun opini publik, itu adalah media. Di tengah perkembangan media sosial, media massa memiliki porsinya sendiri dan tidak tersingkirkan.

Sebagai produk teknologi media massa terus berkembang. Namun konten media tetap menjadi raja. Flatform terus berubah dan semakin canggih, tetapi konten tetaplah yang terpenting. Artinya apapun dan bagaimanapun media itu, konten lah yang menjadi kekuatannya.

Kreatifitas itu hanya bumbu. Design dan bentuk media hanya bungkus. Yang utama dari media tetap isi. Publik terpengaruh bukan oleh kemasan tetapi oleh isi. Walaupun demikian, agar orang mau membaca dan menontonnya, design atau kemasannya harus menarik.

Produk jurnalistik baik berupa berita maupun opini, tidak diragukan lagi memiliki peran dalam membentuk opini manusia. Apapun yang disampaikannya akan memberikan kontribusi pada wawasan seseorang, cara berfikir seseorang, termasuk perilaku seseorang.

Kerja jurnalistik dalam pengertian yang umum hanya mentransfer informasi. Mengabarkan tentang sebuab peristiwa. Orang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu. Baca berita, nonton berita, habis itu selesai urusan.

Produk jurnalistik di sini mengabarkan sesuatu yang kemudian dilupakan lagi. Berita dibaca pagi, siang sudah basi. Masuk telinga kiri keluar dari telinga kanan. Berita yang diproduksi secara susah payah, tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Dunia jurnalisme sebenarnya dapat meningkatkan peran medianya melebihi fungsi menginformasikan semata. Salah satu yang penting dikembangkan saat ini adalah memberikan perubahan di masyarakat. Jurnalis harus mampu membebaskan masyarakat dari persoalan-persoalan yang ada.

Jurnalisme harus punya visi jauh ke depan dari hanya sekedar mengabarkan semata. Produk jurnalistik itu harus bunyi di masyarakat karena dapat hidup tumbuh untuk memberikan harapan kepada kemanusiaan yang utuh.

Produk jurnalistik tidak hanya untuk dibaca atau dilihat, tetapi harus dapat dijadikan referensi untuk melakukan perubahan sosial. Produk ini harus memberiikan inspirasi terhadap aktivitas pembebasa terhadap persoslan-persoalan sosial.

Produk jurnalistik seperti ini tentu saja tidak hanya mengangkat peristiwa-peristiwa yang ada, tetapi dapat menggali hal-hal tersirat dari setiap fenomena sosial. Para jurnalia harus bisa menemukan sebuah pesan yang tidak tampak dari sebuah situasi sosial.

Maka menjadi keharusan bagi jurnalis adalah membangun sebuah visi informasi. Bahwa membuat berita bukan semata mentransper informasi dan setelah itu beres urusan. Tetapi bagaimana insan pers dapat membangun agenda kemanusiaan dan peradaban melalui karya-karyanya yang menginspirasi, menggugah, menggerakan, dan terjadinya perubahan yang lebih baik.

Produk jurnalistik seeperti ini akan menjadi sebuah referensi penting bagi pembaca dan penonton untuk lahirnya sebuah aktivitas positif. Bagi kaum intelektual produk jurnalistik menjadi konsumsi akal yang rasional dan kritis. Bagi masyarakat umum produk jurnalistik menjadi vitamin yang menyehatkan akal dan mental. Sedangkan bagi penggerak sosial produk jurnalistik akan menjadi referensi untuk melakukan aktivitas sosial yang lebih produktif dan terencana.

Jurnalisme yang memberdayakan akan menyajikan konten-konten yang dapat memberikan inspirasi perubahan kepada publik untuk melakukan aktivitas yang berorientasi pada pemberdayaan. Gerakan-gerakan sosial yang selama ini berbasis pada analisis sosial (ansos) kemudian akan bersinergi dengan sebuah aktivitas jurnalistik. Dalam bahasa lain, produk jurnalistik harus menjadi referensi bagi lembaga-lembaga sosial atau aktivis sosial untuk merumuskan aksinya yang berbasis pada data jurnalistik.

Maka produk jurnalistik disini dituntut untuk lebih memiliki tema tertentu karena di dalamnya terdapat agenda perubahan. Maka yang dikejar oleh seorang jurnalis bukan semata kecepatan dan banyaknya berita, tetapi sejauh mana konten itu dapat mengangkat sebuah tema dengan pola pemberitaan mendalam dan kelengkapan datanya.

Maka keberhasilan sebuah media tidak diukur dari seberapa banyak berita yang diturunkan tetapi seberapa besar perubahan yang terjadi di masyarakat. Fokus tema bisa berdasarkan pada isu tertentu, juga bisa berdasarkan lokus.

Maka ke depan, institusi media harus bersinergi dengan berbagai lembaga sosial untuk membangun sebuah visi bersama. Merumuskan agenda, memilih isu, melakukan riset (mengumpulkan data dan analisis), kemudian mengabarkannya kepada publik. Di dalamnya bukan hanya ada kegiatan jurnalistik tetapi juga ada aktivitas gerakan sosial yang teragendakan secara baik. Sehingga media bukan hanya alat untuk mentransfer sebuah informasi tetapi juga menjadi tools untuk melakukan perubahan sosial. (***)