Oleh: Risno Ibrahim (Mahasiswa IAIN Ambon)

MALUKUnews: Demokrasi adalah: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat ( Abraham Lincoln ).

Pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan. Oleh karena itu, amanah yang bernama demokrasi ini harus di sambut serius oleh rakyat dengan segala persiapan.

Sebagai seorang yang dipercayakan untuk menentukan kebijakan, haruslah didukung dengan daya analisis yang rasional serta terbuka. Karena apabila tidak demikian maka demokrasi yang kita anut dan kita anggap sebagai suatu sistim pemerintahan yang baik ini akan berubah menjadi seperti apa yang di katakan Federic Neitze bahwa demokrasi adalah proses pembusukan masyarakat.

Amanat UUD 1945 menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) menganut paham demokrasi. Amanah ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri terhadap bangsa indonesia.

Kelebihan di antaranya yaitu, setiap individu dalam msyarakat memiliki hak memilih serta hak suara yang sama.

Kelemahan di antaranya yaitu, dalam memberikan hak memilih serta memberikan hak suara tidak berdasar pada analisis yang rasional dan yang lebih parah lagi memilih karena interpensi tangan besi dan juga rupiah.

Tulisan ini merupakan refleksi saya dari percakapan supir angkot dan parah penumpang tujuan pasar mardika di Ambon. Percakapan mereka membuat saya berfikir bahwa yang paling penting dalam demokrasi adalah kecerdasan. Baik itu Intelctual Queson (IQ), Emosional Queson (EQ), maupun Spiritual Queson (SQ).

Angkot yang sarat penumpang itu melintas dengan baik, namun karena saratnya para penumpang sudah tentu ingin cepat sampai agar bebas dari kesempitan yang membuat kepanasan. Tepat turun-turun batu merah ada sedikit kemacetan, membuat para penumpang mengeluh. Timbulah percakapan.

Supir angkot : macet yang lebih parah itu kamareng, barang orang-orang pawai kemenangan BAILEO ( salah satu pasangan calon gubernur maluku pada pilkada 27 juni 2018 ).

Penumpang : Io untuk sementara Baileo unggul berdasarkan perhitungan cepat, tinggal katong tunggu hasil KPU saja. Supir angkot : kayanya hasil dari KPU pun Baileo menang, tadi beta nonton berita 40% sekian Baileo unggul. Penumpang : io, ganti dolo toh. Nanti lima tahun memimpin seng bagus baru ganti lai. Supir angkot : iyo, orang-orang setiap nae oto banyak yang bilang bagitu lai, ganti dolo.

Lima tahun, merupakan waktu yang lambat dan juga cepat dari dua sudut pandang.

Lambat, jika dijalani masyarakat ploletar, namun cepat jika di jalani pemerintah atau kekuasaan.

Pilkada kemarin 27 juni 2018 sebagai penetuan nasib maluku, lebih tepatnya nasib rakyat maluku lima tahun kedepan dan itu tidak bisa kita pikirkan sebagai coba-coba. Sebab jika kepemimpinan itu baik akan di rasakan oleh struktur pemimpin itu sendiri bersama dengan rakyat. Tetapi apabila tidak baik, maka yang merasakan itu hanyalah rakyat.

Pemikiran yang coba-coba sudah pasti tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang agung, justru pemikiran ini akan memantulkan kenyataan yakni melahirkan pemimpin yang juga coba-coba. Jika seperti ini kita terpaksa menelan air perasan daun pepayah ( Pahit ) atas jawaban yang kita sendiri telah ketahui dari pertanyaan kemana arah daerah ini serta 1.857.337 jiwa masyarakat yang ada di dalamnya.

Apalagi sudah menjadi rahasia umum, setelah pemimpin terpilih maka program pertama yang di jalankan adalah program yang tidak pernah tercatat dalam fisi misi kandidat. Yaitu, Program balas-balasan. Baik itu balas jasa, maupun balas dendam, belum lagi balas utang.

Menurut saya selagi kita belum cerdas dalam memilih maka demokrasi kita masi saja tuli.

Jadi apa yang di katakan Abdur ( Stand Up Comedy ) bahwa apabila sistim pendidikan kita belum merata, maka demokrasi kita akan selalu pincang masih saja relevan sampai saat ini. (***)