Oleh: Roni Tabroni ( Dosen Jurnalistik Universitas Sangga Buana YPKP & UIN SGD Bandung )( Dosen Jurnalistik Universitas Sangga Buana YPKP & UIN SGD Bandung )

MALUKUnews: Perpustakaan dan Arsip adalah lahan kering yang tidak menarik. Menjauhinya mungkin lebih baik. Mencari lokasi basah yang gelimang uang, mungkin lebih rasional.

Cap buruk terhadap gudang ilmu dan pilar good governance ini menjadikan Bapusipda menjadi kurang seksi. Padahal, kejayaan sebuah peradaban tidak lepas dari perpustakaan dan arsip.

Martono adalah salah seorang yang menentang arus. Baginya gudang arsip adalah penyambung roda pembangunan. Sangat bodoh baginya jika pemerintah tidak menganggap penting sebuah arsip.

Hidup bergelimang arsip mungkin bagi kebanyakan orang tidak menarik. Tetapi tidak bagi Martono. Baginya, selama karir bekerjanya dalam dunia arsip, sungguh sangat menyenangkan. Apa yang dilakukannya merupakan kerja mulia untuk menyelamatkan ilmu pengetahuan yang tidak dilirik orang.

Hampir 30 tahun hidup Martono dihabiskan di ruang Arsip Bapusipda Jawa Barat. Dirinya mengalami masa Bapusipda ketika layanannya berlokasi yang sangat strategis yaitu Cikapundung, kemudian pindah ke Soekarno Hatta, dan kini semua layanan Perpustakaan dan arsip dipusatkan di Jl. Kawaluyaan. Padahal menurutnya ini adalah lokasi yang tidak strategis.

Tapi apalah daya, Martono hanya seorang diri, yang dalam banyak hal mengaku aspirasinya sering tidak didengar. Mungkin karena itu pula, Martono dari dulu tidak pindah posisi, tetap mengurus arsip media-media jadul dan buku yang sudah pada lapuk dan usang.

Namun bekerja di tempat seperti itu, tidak bisa jika tidak dengan hati. Makanya Martono tidak heran jika untuk mengurus arsip yang jumlahnya ribuan itu, satu ruang besar hanya sendirian. "Sudah banyak orang yang ditugaskan disini tapi cuma sehari dua hari juga hilang lagi, mungki tidak ada yang menarik disini", katanya.

Bekerja di ruang arsip tidak bisa hanya duduk manis. Dirinya harus bersentuhan dengan media dan buku jadul yang sangat kotor, berdebu, lapuk dan terkadang menjijikan. Maka tidak heran Martono setiap hari tangannya harus belepotan dengan debu dari arsip yang ditanganinya.

Menjadi penjaga arsip berbeda dengan orang menjaga buku di perpustakaan. Di ruang arsip, selain fasilitasnya sangat terbatas dan tanpa teknologi yang memadai, Martono harus terampil mengolah, memperbaiki buku yang rusak, menambal cover yang sobek, menjilid ulang, menata, dan membudel setiap media. Belum lagi menjaga agar setiap media akan tetap utuh dan tidak rusak, sebab media dan buku jadul sangat rawan sobek.

Disamping itu Martono juga harus melakukan pemilahan berbagai temuannya terhadap arsip-arsip yang tidak terkira nilainya, walaupun itu hanya selembar. "Orang kadang menyepelekan gambar atau goresan tangan yaang sudah lama, padahal bisa jadi itu sangat berharga buat generasi anak cucu kita", tegasnya.

Martono misalnya mencontohkan, mengapa dulu Belanda membuat situ yang kemudian disebut Situ Aksan. Mengambil satu lembar gambar dalam kertas satu lembar yang sudah tidak jelas lagi Martono menerangkan alasan Belanda membuat Situ. "Bandung ini kan cekungan, kalau ga ada penampungan air maka akan banjir, buktinya Situ Aksan sekarang jadi perumahan maka tiap hujan pasti banjir," terangnya. Jadi menurutnya arsip yang hanya satu lembar itu dapat menjadi pengetahuan berharga bagi generasi mendatang.

Tetapi, Martono juga paham bahwa kepentingan materi dan hidup serba instant seperti sekarang ini, membuat kebanyakan orang tidak peduli dengan arsip. "Jangankan masyarakat biasa, pemerintah juga tidak peduli dengan arsip", paparnya. Maka Martono yakin mengapa kita susah maju, karena bangsa kita ini tidak pernah belajar pada masa lalu. Sedangkan salahsatu cara belajarnya adalah dengan membuka arsip.

Di tempat dirinya bekerja saja, Martono merasa jauh dari layak. Bagaimana bisa ribuan buku teronggok dalam kardus tak tertata. Ribuan koran tergeletak dan tercecer tanpa tempat yang memadai. Alasannya kata Martono, "saya disini cuma sendiri, terus rak saja disini masih sangat kurang. Jadi buku-buku dan koran ini mau disimpan dimana? Kita dari dulu minta fasilitas juga tidak dikasih terus," ungkapnya.

Merasakan kondisinya yang menyedihkan ini, Martono sebenarnya tidak memikirkan diri sendiri. "Yang saya sedihkan, tahun depan saya akan pensiun, lalu siapa yang akan mengurus arsip-arsip ini. Saya hawatir nanti ini tidak ada yang ngurus dan bahkan saya sangat takut jika nanti banyak arsip yang hilang", pungkasnya. (***)