Oleh: Julius R. Latumaerissa ( Kolumnis )

MALUKUnews: Momentum Pilkada sering melahirkan fenomena-fenomena kontroversial/ kontradiktif. Hal ini sering terjadi di depan mata kita, melihat sikap dan perilaku yang ‘nyeleneh’ baik dari pendukung, simpatisan dan relawan masing-masing calon kepala daerah maupun pribadi Paslon itu sendiri.

Profil Kerakyatan

Banyak penafsiran keliru/ bias, bahkan salah kaprah tentang Pemimpin Kerakyatan. Pemimpin kerakyatan, sederhananya dikatakan sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Bertolak dari pemahaman ini, bukan berarti sang calon itu kemudian merubah gaya/model kepemimpinannya yang bertentangan dengan karakter aslinya. Jadilah pemimpin yang sesuai dengan jati dirinya sendiri, apa adanya.

Pemimpin kerakyatan, tidak melakukan hal-hal kontradiktif demi mendapat pengakuan, bahwa dia dekat dengan rakyat. Banyak hal yang kita dapatkan. Tindakan kontradiktif ini sering melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak pantas dilakukan tetapi demi mendapatkan simpati mereka melakukannya sebagai suatu pembenaran yang logis dan rasional, etis dan fenomenal.

Profil Kesederhanaan

Banyak calon kepala daerah yang aslinya atau keseharian memiliki gaya hidup the have/ burjuis/ priyai/ elitis, namun untuk mendapatkan simpati rakyat, maka mereka rela untuk tampil dengan gaya yang sederhana, seakan menunjukan bahwa mereka adalah pemimpin yang sederhana. Dari sikap ini saja yang terkecil sudah menunjukan ketidak jujuran perilaku.

Masyarakat seharusnya melihat hal ini sebagai suatu dagelan politik yang sedang dipertontonkan para calon kepala daerah. Ada yang rela turun ke sungai ngumpulin sampah, ada yang rela untuk berenang di laut, ada yang rela melakukan pekerjaan-pekerjaan pemulung atau aktivitas kelompok marginal yang lain, yang sesungguhnya pribadi mereka bukan itu.

Ironisnya masyarakat sudah tahu, karakter keseharian sang calon, tapi belum juga melek mata, malah lakon itu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa, padahal makna sesungguhnya adalah manipulasi karakter untuk memperoleh simpati rakyat. Dagelan politik ‘nyeleneh’ seperti ini patut kita sayangkan.

Otokritik Bagi Pemilih Rasional

Fenomena lain yang memalukan adalah dagelan politik semacam ini justru direspon secara berlebihan oleh kelompok pemilih rasional yang ada. Mereka sudah kehilangan logika dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar dan pantas .

Seharusnya kelompok pemilih rasional justru harus berani untuk memberikan kritik tajam sehingga memberikan edukasi kepada pemilih tradisional untuk lebih hati-hati dan mengenal kepribadian calon kepala daerah. Pemilih tradisional harus diberikan pemahaman bahwa bentuk dagelan politik semacam itu bukan menunjukan integritas kepemimpinan sang kandidat.

Saran untuk Paslon “HEBAT” dan Pendukungnya

Secara pribadi saya memiliki sikap dan pilihan politik yang jelas yaitu PASLON HEBAT. Melalui medsos ini saya hanya memberikan saran kepada paslon HEBAT bahwa dukungan rakyat sudah jelas dan terbukti melalui kerelaan untuk memberikan dukungan KTP dan lain sebagainya. Secara pribadi saya mengenal benar figur HEBAT. Mereka adalah Senior dan Yunior saya.

Bung Herman Koedoeboen, Calon Gubernur Maluku adalah senior saya, dan pada erah 80-an – era 90-an, kami bersama-sama aktif sebagai kader golkar asli melalui kino golkar yaitu depindar SOKSI XXIV Maluku. Kami berdua dikandung dalam rahim politik yang sama. Demikian juga Bung Vanath. Untuk itu saya mengajak HEBAT untuk tidak melakukan politik pencitraan yang ‘nyeleneh’, melalui gerakan-gerakan yang tidak layak dipertontonkan dan hanya menjadi lelucon politik dan menuai cibiran bibir rakyat.

Pertahankanlah sikap kesederhanaan; sikap kerakyatan; sikap kepemimpinan yang aslinya sudah melekat dalam pribadi masing-masing. Tampil dan temuilah rakyat Maluku apa adanya, "HEBAT akan semakin HEBAT jika selalu berada ditengah - tengah rakyat Maluku, karena saya yakin HEBAT sudah ada di dalam hati dan sumsum rakyat Maluku. Berjalanlah dengan jati diri sebagai anak adat Maluku yang menjunjung nilai-nilai kemalukuan yang sudah ditanamkan oleh para leluhur kita sejak dulu.

Makna Nomor “3” Paslon HEBAT

Sebagai anak ADAT Maluku HEBAT bukan secara kebetulan mendapat nomor urut 3 (tiga), jika saya boleh memaknainya adalah sebagai berikut:

(a). TIGA MATA AIR; (b). TIGA BATU TUNGKU; dan (c). TIGA PAS artinya:

   PAS WAKTUNYA, 
   PAS ORANGNYA, 
   PAS PROGRAMNYA

KATA KUNCI: HEBAT untuk Maluku, maka Maluku menjadi HEBAT ( ***)