Oleh: Ancha Tunny Sapsuha ( Putera Seram )

MALUKUnews: Siapapun terpukul mendengar kabar ini. Seperti bunyi pepatah "tikus mati di lumbung padi" sangat tepat untuk menggambarkan kondisi suku Mausuane di pedalaman hutan Kobi-Seti Seram Utara Maluku Tengah.

Mausuane bukan satu-satunya suku yang masih hidup secara nomaden atau berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Tercatat 16 suku berjumlah 100 Kepala Keluarga masih mendiami kawasan hutan Pulau Seram.

Medio Maret 2018 sebantak enam orang perwakilan dari enam suku masing-masing Koa-koa, Mainkem, Yamalise, Fond, Kamu-kamu dan Bati mendatangi Koramil dan Polsek Wahai, Seram Utara. Mereka didampingi Bikhu Misionaris Banthe Chittaghutto MT dan seorang volunter, Hellen Lie meminta agar didata sebagai penduduk Kabupaten Maluku Tengah.

Medio 2017 Dinas Kesejahteraan Sosial bertatap muka dengan suku Yamalise melalui perantara Sekretaris Desa Kobisonta. Dalam program Komunitas Adat Terpencil (KAT) itu rencananya akan direlokasi ke daratan rendah. Walhasil, bertolak belakang dengan kebiasaan mereka yang masih nomaden.

Administrasi Kependudukan:

Belasan suku dan ratusan kepala keluarga itu hingga kini belum terdata baik sebagai pendudukan Maluku Tengah maupun Seram Bagian Timur. Itu karena, praktek hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam kawasan hutan Kobi-Seti. Praktek nomaden jika salah satu anggota keluarganya meninggal dan atau diketahui oleh orang diluar komunitas. Hal lain adalah tidak bisa berbahasa indonesia.

Sumber-Sumber Pangan:

Kabar meninggalnya tiga warga suku itu sungguh menyayat naluri kemanusiaan kita, sekaligus memilukan "Seram Yang Kaya, Tetapi Mereka Lapar." Kematian bagi suku-suku ini adalah hal yang tabu sehingga mencari tempat-tempat baru, begitu seterusnya. Mereka tidak bertahan lama di suatu tempat.

Pada medio 2015 terjadi bencana kebakaran, mengakibatkan hutan sebagai sumber utama pangan lenyap. Aneka logistik yang disalurkan Pemda dan pihak terkait tidak bertahan lama. Suku-suku ini kemudian berpindah ke daerah pinggiran, perkebunan masyarakat.

Proses perpindahan dari daratan tinggi ke daratan rendah itulah salah satu faktor minimnya bahan makanan dan sumber air. Mereka seakkan tercerabut dari akar kebudayaan dan kehidupan di tempat semula sebelum terjadi bencana kebakaran.

Hutan :

Provinsi Maluku termasuk gugusan pulau-pulau kecil. Karena itu sangat tidak tepat untuk investasi perkebunan dan pertambangan raksasa. Kawasan hutan di Seram Utara, misalnya dialihfungsikan untuk perkebunan raksana seperti sawit dan sawah. Belum lagi ijin pemanfatan kayu oleh beberapa perusahan raksana.

Jika digambarkan, Seram Utara Barat terdapat perkebunan sawit sampai ke Seram Utara. Perusahan kayu dari Liang Aweya sampai ke Seram Utara Barat. Dari arah Selatan sedang terjadi penebangan oleh salah satu perusahan dengan masa kontrak 45 tahun kedepan.

Sementara banjir dan tanah longsor dari Jali Tala-Kairatu kemungkinan karena penebangan besar-besaran oleh perusahan di masa Orde Baru yang berpusat di Waisarissa.

Jikalau kami mati Aduhai jgn karena malaria, disentri Tapi dipelukMu jua Diantara wangi cengkeh dan pala. ( ***)