MALUKUnews, Ambon: Provinsi Maluku yang terdiri dari pulau-pulau, tentu masih memiliki kendala besar dalam hal transportasi laut, yang akan menghubungkan pulau satu dengan pulau yang lainnya. Jika pun ada transportasi, tentu biayanya pun mahal.

Seperti diungkapkan Yoke Frans Lutaporu, seorang guru SD di Oirata, Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (MBD), bahwa untuk ke Ambon saja ia harus menempuh waktu delapan hari dengan menggunakan kapal perintis Sabuk 71, tentu dengan terlebih dulu menyinggahi Serwaru, Moa, Tepa, Saumlaki, Tual baru langsung ke Ambon. “ Meskipun harga tiketnya hanya Rp. 80 ribu/orang, namun perjalanannya cukup lama, waktu kami habis dilaut pak. Kami butuh perhatian pemerintah untuk menyediakan transportasi cepat dan murah di wilayah kami yang jauh dari ibu kota provinsi Maluku ini pak,” keluh Yoke saat dihubungi Malukunews.co, Selasa (30/04), pagi.

Lanjut Yoke, ada juga kapal alternatif untuk cepat sampai ke Ambon, tapi harga tiketnya cukup mahal. Kapal cepat Lestari 77 misalnya, dengan tujuan Kisar-Ambon, daya tempuhnya hanya dua hari namun harga tiketnya cukup mahal Rp. 500 ribu/orang. “ Kalau harga tiket kapal cepat seperti ini, kami warga di Pulau Kisar tak sanggup pak. Tiketnya terlalu mahal. Semoga dengan terpublikasi keluhan kami ini, pak gubernur dan wakil gubernur Maluku bisa mendengarnya dan mau mengatasi masalah kami ini,” ujar Yoke dengan penuh harapan. (Qin)