MALUKUnews, Ambon: Kabid Sumber Daya Air Dinas PU Maluku Sandy Wattimena mengklaim proyek air bersih di Desa Romean, Kecamatan Yaru, Desa Keliobar, Kecamatan Tanimbar Utara dan di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian sudah selesai dikerjakan, dan sudah diserahkan ke desa, sehingga tanggung pihaknya sudah selesai.

“Jadi setelah kita kerjakan, ada masa perawatan selama 6 bulan, kemudian diserahkan ke desa dan tanggung jawab kita sudah selesai,” kata Wattimena, ketika dikon­firmasi Siwalima di ruang kerjanya, Senin (23/4).

Wattimena mengaku, pro­yek itu dikerjakan tahun 2015 dengan dana APBN senilai Rp 5,1 milyar. Tetapi bukan hanya dikerjakan oleh Agus Theodorus. Namun juga oleh Rizal Afarat.

“Ada tiga proyek di tiga desa, namun kontrakor yang mengerjakan proyek ini ber­beda. Untuk Agus Theodo­rus yakni di Desa Sangliat Krawain, Kecamatan Wertamrian dengan nilai Rp.1,5 milyar. Sedangkan untuk Desa Romean, Kecamatan Yaru den­gan nilai 1,7 milyar dan Desa Keliobar, Kecamatan Tanimbar Utara dengan nilai Rp. 1,9 milyar dikerjakan oleh Rizal Afarat,” jelas Wattimena.

Wattimena mengatakan, setelah selesai dikerjakan dan diuji coba air mengalir ke rumah-rumah warga.

Namun secara teknis yang lebih tahu tentang proyek di tiga desa itu, Alex Lopulalan yang menjabat Satker Air Bersih Dinas PU Maluku.

Berbeda dengan Wattimena, menurut Alex Lopulalan, menjelaskan proyek air bersih di Desa Keliobar, Kecamatan Tanimbar Utara dikerja­kan tahun 2014. Sedangkan di Desa Sangliat Krawain dan Desa Romean tahun 2015. Pekerjaan ketiga proyek ini sudah selesai, dan air jalan ke semua rumah warga ketika diuji coba.

“Kami pastikan setelah proses pekerjaan itu dilaku­kan dan uji coba air masuk ke rumah warga dan kita sudah serahkan pengelolaannya ke desa,” kata Lopulalan.

Lopulalan mengatakan, ke­tiga proyek air bersih itu diker­jakan selama tujuh bulan, dan pemeliharaan enam bulan.

“Proyek air bersih di tiga desa itu dikerjakan selama tujuh bulan dan pemeliharaan berlangsung enam bulan, dan air tetap mengalir bahkan pada penyelenggaraan pes­pa­rawi tingkat kecamatan peserta bisa menikmati air di Desa Romean,” ujarnya.

Untuk Desa Romean, kata Lopulalan, saat ini air hanya mengalir sampai di ujung desa. Karena tahun lalu ada banjir se­hingga merusak sejumlah pipa sambungan ke rumah warga.

“Pipa banyak yang patah dan rusak sehingga air tidak ma­suk sampai ke rumah warga tetapi sampai sekarang air me­mang mengalir walaupun sam­pai diujung kampung, dekat ru­mah mantan sekcam,” jelasnya. (S5)