MALUKUnews: Bumi berputar pada sumbunya sekali dalam 24 jam sehari. Bumi berputar dengan kecepatan 1.600 km per jam di ekuator. Setiap hari, siang dan malam, kamu dibawa berkeliling dalam planet bulat ini, di bawah bintang-bintang, namun kita sama sekali tidak merasakan putaran tersebut.

Itu bisa terjadi karena saya, kamu, kita, dan segala lainnya - termasuk lautan dan atmosfer - berputar bersama dengan Bumi pada kecepatan konstan yang sama.

Hanya jika Bumi berhenti berputar, tiba-tiba, kita akan merasakannya. Jika hal itu terjadi maka perasaannya bakal mirip dengan ketika kamu menumpang mobil dengan kecepatan cepat, dan tiba-tiba si sopir mendadak injak rem yang dalam! Kita bisa terpental.

Jadi, mengapa kita semua tidak merasakan putaran Bumi ini? Jawabannya terletak pada sifat gerakan Bumi itu sendiri. Bayangkan kita sedang berada di pesawat terbang saat bepergian dengan lancar pada kecepatan konstan, juga ketinggian konstan. Kamu melepas sabuk pengalan untuk berjalan di lorong dan sama sekali tidak merasakan gerakan pesawat. Alasannya sederhana, itu terjadi karena kita, pesawat, dan semua yang ada di dalamnya sedang bergerak dengan kecepatan yang sama. Untuk memahami pergerakan pesawat ini, coba longok awan di luar.

Planet kita menyelesaikan putaran penuh pada sumbunya setiap 23 jam dan 56 menit. Ia berputar tanpa henti pada laju yang hampir seluruhnya konstan. Kita semua seisi Bumi ini juga bergerak bersamanya.

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk merasakan gerakan adalah dengan merasakan angin di wajah dan tubuh. Tapi, perlu dicatat, atmosfer Bumi juga bergerak bersama Bumi dengan kecepatan yang sama.

Mengapa Bumi bisa berputar begitu konstan? Karena tidak ada yang menghentikannya. Ketika Tata Surya kita terbentuk dari awan debu, semua planet mewarisi rotasi. Matahari, semua planet tetangga kita, bulan-bulan mereka, dan segala sesuatu yang tersebar di sistem Tata Surya, masih berputar setelah miliaran tahun karena inersia.

Putaran konstan Bumi membuat nenek moyang kita cukup bingung tentang sifat sebenarnya dari kosmos. Mereka memperhatikan bahwa bintang-bintang, Matahari, dan Bulan, semua tampak bergerak di atas Bumi. Pikiran itu didasarkan mereka tidak bisa merasakan Bumi bergerak maka secara logis pengamatan ini ditafsirkan bahwa Bumi itu diam dan 'langit' bergerak di atas kita.

Kemudian tercetus gagasan astronom sekaligus matematikawan Yunani bernama Aristarchus dari Samos, yang mengusulkan model heliosentris pada ratusan tahun sebelum Masehi. Model heliosentris Tata Surya menempatkan Matahari di pusat alam semesta, dan bukan Bumi.

Kemudian pada abad ke-16 model heliosentris yang diperinci Nicolaus Copernicus mulai dibahas dan dipahami. Meskipun bukan tanpa kesalahan, model Copernicus akhirnya meyakinkan dunia bahwa Bumi berputar pada porosnya di bawah bintang-bintang ... dan juga bergerak dalam orbit yang mengelilingi matahari.

Kita tidak merasa Bumi itu berputar pada sumbuhnya karena ia berputar secara stabil dan bergerak dengan kecepatan konstan di orbitnya. Kita adalah penumpang Bumi. (kumparan.com)