MALUKUnews, Jakarta: Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan pulihnya jalur pipa di Libya serta North Sea berpeluang menjadi katalis negatif bagi harga minyak. Namun, dengan masih berlangsungnya pengurangan produksi oleh para produsen top dapat menahan penurunan lebih dalam.

Faisyal memprediksi minyak akan mengalami bearish dalam jangka pendek, namun pelemahannya tidak terlalu dalam.

“Minyak mengincar level support terdekat di US$ 60,20 per barel. Menembus ke bawah dapat mendorong penurunan lebih lanjut ke level US$ 59,80 per barel,” kata Faisyal dalam publikasi risetnya, Rabu, 3 Januari 2018.

Terpantau, pada pagi dini hari, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent cenderung bergerak stabil, namun mengalami pelemahan. Harga WTI melemah tipis 0,01 poin atau 0,02 persen menjadi US$ 60,36 per barel pada pukul 11.07 WIB di New York Merchantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent turun 0,07 poin atau 0,11 persen menuju US$ 66,50 per barel pada waktu yang sama di ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Dilansir dari Bloomberg, perbaikan pipa Libya ang rusak pada 26 Desember lalu telah selesai pada Sabtu, 30 Desember 2017 dan pengiriman minyak ke terminal es sider sudah dilanjutkan.

Adapun sistem pipa Forties North Sea sebagai patokan untuk perdagangan minyak di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia telah beroperasi penuh setelah ditutup awal bulan lalu.

Pekan ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada laporan cadangan minyak AS yang akan dirilis oleh American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA). Apabila penurunan cadangan minyak AS tidak terjadi, maka harga akan lebih terkoreksi. (tempo.co)