MALUKUnews, Jakarta: Pakar Teknologi Informasi (IT) Ismail Fahmi menyebut tensi atau tekanan di media sosial berpotensi semakin panas pada tahun politik 2019 mendatang. Peredaran hoaks juga menurutnya masih mengancam pada tahun tersebut. Salah satu sebabnya, masyarakat kian sadar berpolitik menggunakan media sosial.

“Kemungkinan tensi media sosial akan semakin panas dan lebih panas dari 2014 kemarin. Dan saat ini masyarakat lebih banyak yang mulai berpolitik melalui media sosial. Seperti contoh penyampaian gagasan melalui tagar,” ungkap Ismail kepada Republika.co.id, Senin (30/4).

Seiring dengan banyaknya orang yang berpartisipasi melalui tagar, dia juga mengiyakan adanya ancaman hoaks yang mengiringinya. Menurutnya, semakin banyak orang yang menggunakan media sosial, akan semakin banyak opini yang beredar.

“Semakin banyak orang yang menggunakan sosmed, itu equivalent dengan banyaknya opini dan narasi. Dan juga hoaks, hatespeech itu pasti akan naik juga. Ini mesinnya akan bekerja terus,” tuturnya.

Pakar yang merupakan lulusan Universitas Groningen Belanda itu menjabarkan, pada 2014 lalu, yang bermain media sosial adalah masyarakat yang pro dengan pemerintah saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, saat ini tim oposisi pun juga telah mulai bermain media sosial untuk menyampaikan gagasan-gagasan.

“Kalau pada 2014 itu kan tim pro-Jokowi yang bermain di media sosial. Nah sekarang, ini tim oposisi ini sudah sangat kuat. Kekuatannya hampir sama, bahkan mungkin dalam beberapa hal malah jauh lebih kuat dari pada yang pro-Jokowi sekarang ini,” ungkapnya.

Sehingga, adanya tensi politik yang memanas pada 2019 mendatang pun tak mudah untuk dielakkan. Dia berharap masyarakat dapat menjadi lebih dewasa dalam berpolitik di dunia maya. Ismail mengimbau masyarakat untuk lebih menggunakan data untuk menyampaikan aspirasi politiknya.

“Harapannya kan mudah-mudahan tidak main kasar. Lebih menggunakan data, lebih ke gagasan. Hal ini agar publiknya pintar. Dan media nasional juga harus berperan dalam mendidik publik,” tuturnya.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk tak terprovokasi dan bijak dalam membagikan sebuah gagasan. Untuk gagasan yang telah mengarah kepada upaya menjelek-jelekkan seseorang, sebaiknya dihindari oleh masyarakat.

“Kalau sudah ada kata-kata menjelekkan, siapapun itu, menjelekkan penguasa, menjelekkan ustaz, lebih baik disetop aja. Gagasan itu jangan diapa-apain, meskipun itu cocok dengan kita, dengan perasaan dan hati kita,” kata dia. (Republika.co.id)