MALUKUnews, Jakarta: Sebuah laporan menguak jumlah total kekayaan para orang terkaya di Asia Pasifik. Kekayaan akumulatif para miliarder di Indonesia tercatat melonjak drastis dalam periode satu tahun.

Dilasir Bloomberg, laporan itu berdasarkan data terbaru Asia-Pacific Wealth Report dari konsultan Capgemini periode 2016-2017. Kekayaan dihitung dari individual dengan harta di atas USD 1 juta.

Harta para miliarder di Indonesia tercatat sebesar USD 661 miliar atau setara Rp 9.489 triliun (USD 1 = Rp 14.356). Jumlah tersebut lompat drastis dari data tahun sebelumnya yang hanya USD 184 miliar (Rp 2.641 triliun).

Apa alasan peningkatan tersebut? Ternyata itu berkat adanya program Tax Amnesty pemerintah. Alhasil, terdapat informasi mengenai kekayaan yang lebih baik.

Untuk posisi pertama dipegang oleh Negeri Sakura. Jumlah kekayaan di sana mencapai USD 7,7 triliun atau mencapai setara Rp 110.545 Triliun (USD 1 = Rp 14.356). Ini menarik, sebab tidak ada miliarder Jepang yang tembus 20 besar orang terkaya di dunia, tetapi ternyata secara akumulatif para orang kaya di Jepang memiliki harta terbanyak.

Menurut perhitungan real-time Forbes, orang terkaya di Jepang adalah Tadashi Yanai. Pria 61 tahun itu adalah bos Uniqlo dengan harta USD 26,1 miliar (Rp 374 triliun).

China berada di belakang Jepang dengan jumlah harta USD 6,5 triliun (Rp 93.317 triliun). Angka itu tercatat tumbuh 144 persen di antara 2010-2017.

Pertumbuhan kekayaan di China tidak mengherankan mengingat semakin kuatnya industri digital Tiongkok, dua orang terkaya China, yakni Jack Ma dan Ma Huateng, berada dalam daftar 20 orang terkaya dunia. Kedua bos dunia teknologi itu tercatat mengalahkan para miliarder di sektor real estate.

Negara-negara Asia lain juga tercatat mengalami kenaikkan jumlah kekayaan. Di Negeri K-Pop, pertumbuhanya tertinggi kedua 18 persen, meski angka itu sangat jauh di bawah China. Pertumbuhan selanjutnya diikuti Hong Kong dengan pertumbuhan 16,3 persen berkat pasar real-estate yang sedang melonjak.

"Ini adalah saat yang menyenangkan di Asia," ujar William Sullivan, kepala global intelijen pasar di Capgemini, seperti dikutip The Japan Times. Jumlah kekayaan di Asia pun diprediksi terus berlanjut hingga 2025.

Jumlah kekayaan yang muncul di Asia-Pasifik tetap tinggi meski ada perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pertumbuhan kekayaan 41,4 persen di level global pada periode 2016-2017. (liputan6.com)