MALUKUnews, Jakarta: Nilai tukar rupiah terus melemah. Pemerintah perlu mengambil langkah jangka pendek, menengah dan panjang yang cepat dan tepat sasaran untuk menguatkan rupiah.

Seperti diketahui IHSG turun 221,8 poin pada penutupan perdagangan Rabu (5/9/2018). Hal tersebut menunjukan kepanikan pasar dimana nilai tukar rupiah yang pelan tapi pasti terus melemah. Pemerintah harus segera mengatasi ini dari sisi psikologis pasar maupun fundamental perekonomian.

“Kita harus menenangkan pasar, kita harus mampu menyampaikan strategi konkret yang meyakinkan mereka ini solusi untuk nikai tukar untuk ekonomi kita,” kata Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo (HT).

Dalam jangka pendek dibutuhkan regulasi yang mewajibkan para eksportir untuk membawa pulang hasil ekspornya dan mengkonversinya dalam rupiah.

“Kita harus mewajibkan jangan menghimbau semua eksportir mengkonversikan hasil ekspor dolar-nya ke rupiah sebesar persentasi dari konten lokal produk yang mereka ekspor,” kata pria yang telah mengajar di lebih 180 perguruan tinggi tersebut .

Hal tersebut akan membantu penguatan rupiah, mengingat banyaknya hasil ekspor saat ini yang parkir di luar negeri dalam bentuk dolar AS. Di sisi lain. para eksportir tidak merugi, karena uang yang disimpan dalam rupiah toh pada nantinya juga akan dibelanjakan untuk bahan baku lokal yang mereka akan ekspor.

Hal kedua yang bisa dilakukan dalam jangka pendek adalah meningkatkan investasi portfolio dengan membentuk tim khusus yang memahami permasalahan dunia usaha, industri dan ekonomi ke kantong-kantong keuangan dunia. Road show ke Singapura, China, Korea, Amerika Serikat, Timur Tengah dan lainnya, supaya mereka mau investasi portfolio di Indonesia.

Sementara itu untuk jangka menengah, devisa harus kuat. Untuk itu ekspor harus naik. Perlu diberikan insentif khusus di kawasan khusus bagi industri yang berorientasi ekspo. seperti pajak yang lebih baik, regulasi ketenagakerjaan yang lebih ramah, dan perizinan lebih mudah. sehingga mendorong dunia usaha investasi di bidang ekspor yang menghasilkan devisa.

Di sisi lain, impor harus dikurangi, harus dilihat item-item apa saja yang bisa digantikan dengan produk lokal. sehingga bisa mengurangi impor.

Kemudian juga mendorong investasi langsung alias foreign direct investment (FDI) dari luar negeri di zona ekonomi khusus.

HT juga menyampaikan saat perang dagang China dan Amerika Serikat sedang berlangsung, Indonesia bisa mendekati perusahan-perusahaan yang berada di China untuk investasi di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut banyak datang dari negara negara lain. Hal tersebut selain menghasilkan devisa, mendatangkan investasi juga membuka lapangan kerja

Selain itu untuk menambah devisa pemerintah bisa menggenjot pariwisata. Saat ini baru 14 juta wisatawan asing berkunjung ke Indonesia tiap tahunnya. Bila Indonesia bisa seperti Thailand yang jumlah wisatawannya sekitar 30 juta orang, ada sekitar Rp 300 triliun uang yang akan masuk ke Indonesia setiap tahunnya.

Untuk jangka panjang masyarakat bawah harus dibangun dengan keberpihakan menjadi masyarakat produktif, para pencipta lapangan kerja baru, pembayar pajak baru. Caranya dengan memberikan perlakuan khusus, seperti dana murah dengan akses mudah, pendampingan, pelatihan dan proteksi. Agar mereka bisa tumbuh lebih cepat. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan kebijakan.

“Hal ini telah berhasil dilakukan oleh China yang dari tadinya ketinggalan, karena membangun masyarakatnya mereka bisa menjadi negara dengan ekonomi ke dua terkuat di dunia dan tak lama lagi akan menyalip AS,” ujar HT. (partaiperindo.com)

iNews.id