MALUKUnews, Jakarta: Saat ini banyak diantara kita lebih selektif dalam mengeluarkan dana untuk konsumsi sehari-hari, cenderung lebih memilih membelanjakan uangnya untuk hal yang sangat penting.

Hal ini dapat dimengerti dengan semakin meningkatnya kebutuhan biaya hidup, dan kehati-hatian masyarakat dalam mengantisipasi kenaikan nilai dolar AS, meskipun belum berdampak pada kenaikan harga.

Soal pelemahan rupiah ini, pemerintah sudah mengajak para pengusaha agar membawa pulang devisa hasil ekspor ke Indonesia. Pemerintah berjanji untuk menekan impor sekaligus memaksimalkan ekspor. Masyarakat pun diajak untuk memperbanyak transaksi di dalam negeri, dan mengurangi konsumsi belanja di luar negeri.

Pandangan bahwa mutu dan fasilitas layanan kesehatan di luar negeri lebih baik, sejatinya tak seratus persen benar. Lihat saja, di dalam negeri, ada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang memiliki fasilitas mumpuni sekaligus bertaraf internasional. Di sektor swasta, layanan kesehatan terbaik sudah banyak dikembangkan di Indonesia termasuk layanan pemeriksaan laboratorium dan klinik yang diberikan oleh Prodia.

Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty, menyampaikan, pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu langkah seseorang melakukan tindak pencegahan terhadap suatu penyakit. Dengan pemantauan sejak dini dan dilakukan secara berkala, seseorang dapat meminimalkan risiko penyakit ke tahap kronis. Melalui tahap preventif ini, dapat menekan pengeluaran untuk biaya pengobatan yang lebih banyak lagi.

Kata Dewi, tidak perlu harus jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium berstandar internasional. Prodia sebagai salah satu penyedia layanan laboratorium klinik telah menyediakan berbagai layanan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Prodia menjadi satu-satunya laboratorium yang hasil pemeriksaannya dapat diterima di luar negeri dan tidak perlu dilakukan pemeriksaan ulang,” ucap Dewi, dalam Siaran Pers, Rabu (24/10).

Dari segi pemeriksaan sendiri, Prodia pun telah mengembangkan beberapa pemeriksaan yang berstandar internasional. Hal ini dibuktikan dengan adanya pemeriksaan genetik ‘’Prodia Genomics’’ yang saat ini berkembang dan banyak digunakan di beberapa negara, seperti Belanda.

Pemeriksaan genetik digunakan untuk mengetahui adanya risiko penyakit bawaan/ diturunkan atau risiko penyakit yang timbul karena pola hidup yang tidak sehat.

Dewi menjelaskan, pemeriksaan genetik yang banyak dikembangkan di luar negeri, mulai masuk ke Indonesia dan dikuasai oleh provider asing. Dengan memanfaatkan pemeriksaan dari negara luar, secara tidak langsung mengurangi devisa bagi pemasukan belanja di Indonesia.

Belum lagi data genetik yang mereka peroleh belum kita ketahui pasti apakah terjaga kerahasiaannya atau justru dimanfaatkan sebagai big data bagi mereka.

Pemeriksaan genetik di Indonesia, dijelaskan Dewi, sudah bisa dilakukan di Lab Genomik Prodia. Saat ini, Prodia menyediakan beberapa pemeriksaan genetik yang dapat digunakan masyarakat sebagai langkah preventif terhadap risiko penyakit, meliputi; Genomic Cancer Risk, Genomic Diabetes Risk, Genomic Cardiovascular Risk, dan akan menyusul pemeriksaan lainnya.

Pemeriksaan genetik deteksi dini meliputi Prosafe NIPT, untuk mengetahui kelainan kromosom 21,18,13 dan kelainan janin sejak usia kehamilan 10 minggu yang telah dilakukan pemeriksaannya di Lab Prodia.

Demikian juga, beberapa tes genetik lainnya seperti Diagnosis BCR ABL, JAK2; Farmakogenomik (CYP2C19, VKORC1, CYP2C9; Targeted Therapy (penetapan terapi kanker, EGFR, NRAS, KRAS, BRAF; hingga Nutrigenomik.

Dengan demikian, masyarakat memiliki banyak pilihan untuk memperoleh layanan kesehatan di dalam negeri dengan kualitas internasional, tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. (Red)