MALUKUNEWS, Ambon: Komunitas guru di Seram Bagian Timur, yang terdiri dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP dan SMA dan Ikatan Peduli Pendidikan Seram Bagian Timur, mengecam keras pernyataan Salim Rumodar di salah satu media cetak lokal di Ambon. Dalam pernyataannya itu, Rumodar, mengatakan, Bupati SBT, Abdullah Vanath tidak pernah memperhatikan guru di SBT yang bertugas di daerah terpencil dan Vanath tidak layak untuk didukung menjadi Gubernur Maluku karena kurang memperhatikan nasib guru. Rumodar mengatakan, dirinya adalah seorang guru sekaliguas pemerhati masalah pendidikan di SBT.

Atas pernyataan Rumodar itu, komunitas guru di SBT itu pun terlihat gerah. Mereka kemudian ramai-ramai mengecam Rumodar atas pernyataan yang dinilai tendensius itu. Menurut mereka Bupati SBT, Abdullah Vanath selama ini sangat memperhatikan kesejahteraan guru. “ Pernyataan Rumodar itu tidak benar, itu hanya sakit hati saja. Rumodar itu bukan guru, jadi jangan mengatasnamakan guru di SBT. Kami tidak pungkiri bahwa pak Bupati selama ini sangat peduli dengan nasib para guru yang bertugas di daerah-daerah terpencil,” ujar Wakil Ketua PGRI SBT, Irianto Rumodar dalam jumpa pers yang dilaksanakan di Ambon, Jumat (03/05), kemarin.

Lanjut Irianto, seluruh anggota PGRI di SBT selalu bersikap independen dan tidak pernah terlibat dengan masalah politik praktis. “ Untuk itu saya mengutuk keras pernyataan Rumodar yang sudah melecehkan guru. Kami juga sudah mengecek seluruh dewan guru di SBT, ternyata nama Salim Rumodar itu bukan guru, tapi dia telah mengatasnamakan guru. Ini pelecehan terhadap kami yang berprofesi sebagi guru ini,” katanya.

Sementara, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MMKS) SMA SBT, Ismail Rumao, juga ikut mengecam pernyataan Salim Rumodar itu. Pernyataan Rumodar itu tidak benar. Menurutnya, selama ini Bupati SBT sangat memperhatikan nasib guru. “ Kami sangat merasa berdosa kalau mengatakan Bupati tidak perhatikan kami. Selama ini Bupati sangat perhatikan dan peduli terhadap nasib kami para guru yang ada di SBT. Pernyataan Rumodar itu tidak benar, orangnya pun juga tidak jelas, karena ia bukan guru,” ujar Rumao mengecam.

Ketua MMKS SMP, Irfan Buatan, dalam konfrensi per itu, juga angkat bicara, ia mengatakan, bahwa pembagian guru di SBT itu sudah merata sesuai kebutuhan masyarakat. Ia pun tak kalah kerasnya mengecam pernyataan Salim Rumodar yang dinilai telah mengada-ada itu. “ Rumodar itu bukan guru dan juga bukan tinggal di SBT dan kami tidak tau siapa dia. Dia telah melakukan pembohongan dan telah mengatasnamakan guru,” ujar Buatan.

Ikatan Peduli Pendidikan SBT, Said Assagaff, selaku ketua, juga tidak kalah mengecam pernyataan Rumodar itu. Menurutnya, masalah kuota untuk guru di daerah terpencil itu bukan ditangani oleh Pemda SBT,tapi kuota itu langsung ditentukan oleh pemerintah pusat. Dari 400 nama guru yang diusulkan ke pemerintah pusat, SBT hanya diberi jatah 13 orang saja untuk status guru daerah terpencil.

Pemda SBT selama ini sangat memperhatikan masalah pendidikan. Bahkan untuk memajukan pendidikan di SBT, Bupati Abdullah Vanath telah mengirimkan putera-puteri terbaik SBT untuk kuliah di Pulau Jawa khusus untuk mata pelajaran tertentu. “ Langkah yang diambil Bupati itu kami nilai sangat membantu untuk memajukan pendidikan yang berkualitas di SBT. Kami sangat bangga atas sikap dan kerja Bupati kami itu,” kata Assagff sedikit memuji. (Hel)