MALUKUnews, Langgur: Klan politik dinasti kerap menjadi citra negatif dialamatkan kala kerabat atau kolega meneruskan estafet kekuasaan politik. Pada setiap tahapan Pilkada serentak, salah satu isu yang selalu mengemuka adalah dinasti politik.

Terkait hal ini pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Maluku Tenggara (Malra), Esebius Utha Safsafubun dan Abdurrahman Matdoan (UTAMA) angkat bicara. Pasangan yang didukung koalisi PDI-P, Golkar, Hanura, Demokrat, PPP itu menepis tudingan adanya praktek politik dinasti di bumi Larvul Ngabal itu.

Isu politik dinasti di Pilkada Malra mengemuka kala pasangan nomor urut dua itu dikaitkan adanya hubungan kedekatan keluarga dengan Buapati Malra Andreas Rentanubun. Utha, sapaan akrab Safsafubun itu tak menampik adanya hubungan itu, hanya saja mantan pimpinan DPRD Malra itu menyebut jika dirinya telah menjabat anggota DPRD Malra jauh sebelum iparnya itu menjabat Bupati.

" Politik dinasti itu dikatakan jikalau seseorang tidak punya pengalaman dan kemampuan lalu dipaksakan, tapi selama calon yang ditampilkan memiliki kemampuan, keilmuan, dan pengalaman maka berhak berkompetisi sebagai kepala daerah, “ ujar kader partai Demokrat Malra, Septian Brian Ubra dalam orasi politiknya pada kampanye dialogis UTAMA di Desa Mataholat Kecamatan Kei Besar Tengah, Kemarin.

Kata Brian, jika memang ada hubungan besan maupun kerabat atau kolega yang dipaksakan meneruskan tongkat kepemimpinan, ini yang dinamakan politik dinasti.

“ Pak Utha adalah mantan pimpinan DPRD Malra, kapasitasnya jelas, pernah mengabdi kepada rakyat. Beliau layak memimpin daerah ini, jadi jangan termakan isu yang menyesatkan itu, “ teriaknya menepis isu yang senagaja dimainkan lawan politiknya dipilkada Malra. (RA)