Oleh: Ahmad Ibrahim ( Direktur Harian Rakyat Maluku )

MALUKUnews: Tinggal enam hari lagi lima sahabat saya yang mantan wartawan ini akan bertarung di pemilihan legislatif (Pileg) 17 April 2019. Yang pertama namanya Drs.H.Darul Kutni Tuhepaly. Kutni Tuhepaly yang sebelumnya dikenal sebagai wartawan Media Indonesia Biro Maluku itu memilih Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai kendaraan politik menuju kursi dewan di DPRD Maluku. Mantan jurnalis ini sudah hampir 30 tahun berkiprah di dunia politik.

Satu hal yang patut dibanggakan atas sikap politik sahabat saya ini adalah komitmennya terhadap garis perjuangannya di PPP. Di tengah gonjang-ganjing dan musim bergantinya partai sejak 20 tahun terakhir kesetiannya terhadap PPP tak pernah pudar.

Di tengah banyaknya sahabat yang berpindah atau membentuk partai baru, alumnus FISIP Unpatti, Ambon, ini tetap pada pendiriannya. "Biarkan mereka pindah partai, saya tetap memilih istiqamah di jalur PPP," ujar politisi partai berlambang Kakbah, itu.

Sebelum menjadi politisi atau selepas kuliah dia memilih melamar sebagai koresponden di Harian Media Indonesia. Sebelumnya lagi, Kutni pernah menjadi stranger di Harian Kompas untuk wilayah Ambon dan sekitarnya.

Di kalangan sahabatnya kala itu pada 1992 kami sering menyapanya dengan inisial "DKT". DKT adalah identitas "rahasia" dari seorang wartawan pada sebuah kode berita yang ditulisnya di surat kabar.

Tak sulit menemui sahabat saya ini. Karakternya sebagai wartawan membuat lelaki asal Desa Sirisori Islam, Pulau Saparua, itu tak sulit diajak komunikasi. Di mana saja ia mudah dijumpai. Bisa di mesjid atau di rumah kopi.

Jika Kutni Tuhepaly memilih bertarung merebut kursi dewan di tingkat provinsi, maka tiga sahabat berikut ini memilih kursi dewan di tingkat kabupaten/kota. Mereka adalah M.Dien Kelilauw. M.Din Kelilauw dulunya adalah wartawan Jawa Pos, dan Suara Maluku. Di Pileg 2019 ini ia memilih jalur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) sebagai kendaraan politik.

Di dunia politik, DK --begitu sering kami menyapa-- termasuk pemain baru. Meski sebelumnya dia juga pernah bertarung menjadi calon wakil bupati pada Pilkada SBT beberapa tahun sebelumnya.

Di dunia wartawan, posisi terakhir adalah sebagai Kepala Lembaga Kantor Berita (LKBN) Antara Wilayah Maluku. Sebuah jabatan prestisius yang pernah ditempati mantan Redaktur Pelaksana Harian Suara Maluku, Ambon, itu.

Beberapa kali liputan bergengsi berhasil dicatat putera asal Desa Gorom-Kesui ini. Liputannya itu sempat menyita keprihatinan di seantero Tanah Air atas insiden jatuhnya pesawat Mandala Airlines tahun 1992 di Desa Liliboy, Pulau Ambon. Dengan mengambil sudut pandang (angel) berita berbeda atas insiden pesawat Mandala yang sempat diberitakan di Jawa Pos Grup tersebut membuat banyak mata tertuju ke Ambon.

Liputan lain DK yang sempat membuat heboh adalah kedatangan Ketua Lembaga Donor Asing International Goverment Group on Indonesia (IGGI) Jan Pront ke Maluku untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Kedatangan ketua lembaga donor yang berpusat di Belanda ini diliput DK dan kemudian dimuat di halaman utama Jawa Pos dengan judul: Kedatangan Jan Pront Di Ambon Dicuekin.

Berita ini sempat menyita perhatian Presiden Soeharto dan menambah rasa jengkel penguasa saat itu apalagi soal bantuan IGGI masuk dalam "incaran" penguasa Orde Baru atas keterlibatan Belanda di IGGI hingga berujung pada pembekuan bantuan IGGI di Indonesia, Maret 1992. Gara-gara berita Jan Pront, DK sempat dipanggil oleh Sekwilda Maluku Akyuwen yang menyoal berita JP Pront itu hingga menjadi isu nasional tersebut.

Sahabat saya berikut ini adalah Bung Levi Kariuw. Ia adalah mantan wartawan Siwalima, Ambon, yang kini memilih partai besutan mantan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono yakni Partai Demokrat (PD) sebagai wadah aspirasi politiknya.

Posisi terakhir Bung Levi Kariuw yang memilih jargon politik: Muda, Berani, dan Peduli, itu adalah CEO Harian Spektrum Ambon. Pada Pileg 2019 ini Bung Levi memilih wilayah pemilihan di Kabupaten Seram Bagian Barat untuk kursi DPRD Provinsi Maluku sebagai ajang pertarungan menuju kursi dewan.

Sebagai wartawan, Bung Levi termasuk sosok wartawan berani dan tegas. Kedekatannya dengan beragam lapisan masyarakat dan informan membuat Bung Levi tidak pernah kering soal isu dan informasi. Di tengah ketegasannya, Bung Levi juga dikenal sebagai seorang dermawan yang "ringan tangan" membantu orang lain.

Lebih setahun saya pernah mendampinginya sebagai pengurus PWI Maluku dengan posisi sebagai sekretaris dimana Bung Levi sebagai ketuanya menggantikan Bung Musa Pohwain yang meninggal karena sakit.

Pada Hari Pers Nasional (HPN) 2012 di Kota Jambi, saya bersama Bung Levi dan pengurus lainnya sempat menghadiri HPN yang dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, itu. "Bung Levi ini orangnya tegas, tapi baik. Ringan tangan," kata Aner Lefnufa, sobat saya di PWI Maluku saat transit di Hotel Marcopolo, Jakarta.

Sobat berikut ini adalah Sahlan Heluth. Mantan Koresponden SCTV ini memilih partai besutan bos MNC Grup Harry Tanoe Partai PERINDO sebagai wadah politik merebut kursi dewan untuk DPRD Propinsi Maluku.

Sebelum menempati posisi di SCTV untuk Biro Maluku, Bung Sahlan Heluth pernah menjadi wartawan Tabloid Nasional yang dibidani oleh wartawan senior Maluku Wem Manuhutu. Setelah lama berkiprah di Tabloid Nasional ia kemudian memilih menjadi reporter Ambon Ekspres. Tak lama berada di Ambon Ekspres (saat terbit mingguan) ia kemudian memilih bergabung di SCTV.

Berbagai liputan khas dari Maluku berhasil ia laporkan dari Ambon. Saat Ambon dilanda konflik, laporan Sahlan Heluth tentu sangat dinanti-nanti. Maklum saat itu laporan tivi termasuk langka. Hanya ada dua tivi swasta yang booming selain SCTV dan RCTI.

Di dunia politik, Bung Sahlan Heluth yang mantan Ketua Ikatan Jurnalis Tivi Maluku itu sudah tak asing. Ia termasuk "pemain" lama. Putera kelahiran Desa Luhu, Kabupaten Seram Bagian Barat ini pernah berlaga di posisi sebagai calon wakil bupati Kabupaten Seram Bagian Barat melawan incumbent Bob Puttileihalat. Sayang, dalam perjalanannya, Sahlan Heluth kandas menempati posisi Wabup dan kini 2019 ia pun banting setir memilih sebagai Caleg PERINDO.

Berikut ini teman saya Syaikhan Azuhry Rumra. Ia adalah wartawan Ambon Ekspres. Sebelumnya adalah mantan Redaktur Pelaksana Radar Ambon. Putera asal Kepulauan Kei ini sebelumnya lagi adalah wartawan Harian FAJAR Makassar yang kemudian memilih kembali menjadi jurnalis di Kota Ambon Manise.

Syaikhan memilih jalur politik sebagai tempat pengabdian dengan mencalonkan diri sebagai Caleg PPP Kota Ambon. Dalam politik, Syaikhan tergolong "pemain" baru.

Akankah pada Pileg tahun ini para sahabat saya ini bisa lolos di ajang politik lima tahunan itu? Kita tentu berharap, dengan semangat untuk berubah, semoga niat baik teman-teman ini akan berbuah hasil. Salam sukses!. (***)