MALUKUnews, Jakarta: Nomor urut di surat suara pemilihan umum masih dianggap penting agar sang calon anggota legislatif bisa melenggang menuju parlemen. Hal ini masih dianggap krusial meski dianggap nomor urut bukan penentu utama kemenangan sang calon wakil rakyat.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Indonesia Lely Arrianie mengatakan, nomor urut masih memberikan dampak psikologis bagi pemilih. Kebanyakan pemilih, utamanya yang pengetahuan politiknya rendah, tidak mau repot-repot menyisir daftar nomor urut di surat suara. Sehingga ada kemungkinan hanya caleg nomor urut teratas yang dipilih oleh masyarakat.

"Makanya tak heran caleg urutan nomor satu ini tetap jadi pertarungan. Caleg nomor urut satu ini punya efek psikologis yang tinggi, di desa itu apalagi. Mereka mungkin malas membaca surat suara yang panjang," jelas Lely, di Jakarta, Sabtu (21/7). Terkadang, lanjut Lely, calon nomor urut satu dari setiap partai bukanlah diisi oleh kader yang benar-benar mumpuni. Calon nomor urut satu malah terkadang diisi oleh kader 'karbitan' yang direkrut partai politik untuk mendulang suara.

Maka dari itu, tak heran jika kerap terjadi kecemburuan di antara kader di dalam mendapatkan nomor urut. Maka dari itu, caleg yang merasa berkompeten harus berani menyuarakan pendapatnya untuk mendapat posisi terbaik di surat suara.

"Kader memang kalau perlu berani sedikit terhadap ketua partai, karena nomor urut itu benar-benar berpengaruh," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo mengatakan partainya memiliki standar tertentu dalam menentukan nomor caleg. Menurutnya, nomor urut pertama tentu diisi oleh caleg petahana karena dianggap sudah punya pengalaman politik.

Setelah itu, nomor-nomor urut berikutnya diisi oleh pengurus inti, atau kader yang menduduki jabatan di Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Kemudian, nomor urut terakhir diisi oleh vote gather, atau sosok-sosok yang menjadi daya tarik.

"Meski nomor urut tidak ada pengaruhnya dan yang pengaruh adalah jumlah suara, tapi kami ada aturannya. Ada standarisasi kenapa caleg bisa mendapat nomor urut satu," jelas dia.

Roy bilang, sistem pemilihan nomor urut ini konsisten di seluruh daerah. Ia mencontohkan daerah pemilihan Jawa Barat II, di mana caleg sekaligus pebulutangkis Taufik Hidayat ditempatkan di bawah Dede Yusuf, yang merupakan caleg petahana. "Pendidikan politik ini memang tidak mudah, makanya kami tempatkan petahana di tempat pertama," kata dia. (ayp/asa) Sumber: cnnindonesia.com