MALUKUnews, Ambon: Sikap arogansi Said Assagaff yang main pecat pengurus akan merugi­kan Partai Golkar dalam Pilkada Maluku.

Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku, Assagaff harusnya lebih bijak. Pengurus yang di­pecat memiliki basis ma­ssa yang jelas, sehingga akan berdampak pada kerja dan konsolidasi pa­sangan calon gubernur dan wakil gubernur, Said Assagaff-Andreas Renta­nubun.

“Pertimbangannya je­las memiliki plus minus. Moda Latupono maupun Ronny Sianressy meru­pa­kan kader yang sangat potensial, dan keduanya jelas memiliki basis ma­ssa. Seharusnya peme­ca­tan tidak dilakukan menjelang pilkada, ka­rena bisa jadi bias dari pemecatan kader Golkar ini, akan akan mem­pe­ngaruhi preferensi politik bagi para konstituen partai Golkar,” tandas akademisi FISIP Unpatti, Mochtar Nepa-Nepa, kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (24/5).

Ia mengatakan, pemeca­tan Wakil Bendahara, Moda Latupono dan Wakil Ketua DPD bidang pemenangan pemilu wilayah MTB, Elia Ronny Sianressy tentu saja melalui pertimbangan dari DPD Golkar Maluku. Namun waktunya tidak tepat, karena partai sedang dihadapkan oleh momentum pilkada, di­mana kontribusi kader partai sangat dibutuhkan.

“Pertimbangan paling uta­ma tentu berdasarkan pada AD/ART partai. Padahal se­betulnya momentum peme­catan sangat tidak tepat, ka­rena partai sedang dihadap­kan oleh momentum pil­kada,” ujar Nepa-Nepa.

Ia menilai, pemecatan ter­hadap Latupono dan Sian­ressy berkaitan dengan loya­litas kader. Tetapi dampak­nya bisa menganggu kinerja partai menjelang pilkada, dan ini merugikan Golkar.

“Pak Moda dan Pak Rony kemudian dianggap sudah tidak loyal, dengan kepenti­ngan dan arah kebijakan partai, maka petinggi partai je­las akan mengambil kepu­tusan politik dengan cara memecat anggotanya. Tetapi lagi-lagi, ini kemudian akan berdampak pada pilkada, bahkan bisa mengganggu kinerja kader partai jelang pilkada. Sebuah kerugian politik tentu akan diterima oleh Golkar jelang pilkada,” tandas Nepa-Nepa.

Hal yang sama juga diung­kapkan, akademisi FISIP Unpatti, Victor Ruhunela. Me­nurutnya, Golkar rugi me­mecat dua kader potensial yang memiliki basis massa.

“Dari segi pendulangan suara itu sangat rugi. Wa­laupun pemilihan ini terletak pada figur. Tetapi figur ini ada pada kuda-kuda yang dipa­sang oleh kader partai,” ujarnya.

Ia mengatakan, DPD Par­tai Golkar Maluku seharus­nya tidak mengambil lang­kah cepat dengan memecat Sianressy dan Latupono. Pendekatan persuasive harus lebih dulu dilakukan.

“Disisi yang lain, dalam proses pergantian dan pe­mecatan itu terjadi sering kali ada hal-hal yang prin­si­pil. Bisa saja mengun­tung­kan dan merugikan. Me­mang ada dampak negatif dan positif. Negatif, kader Golkar punya pengikut suara terbanyak nomor 2 di MTB dan MBD, sehingga dampak kemung­kinan pengikutnya tersing­gung,” kata Ru­hunela.

Ia menambahkan, DPD Golkar Maluku mungkin telah mempertimbangkan secara matang pemecatan terse­but, namun harus melalui prosedur dan mekanisme sesuai AD/ART partai. (Siwalima)