MALUKUnews, Ambon: 20 tahun repormasi telah berlalu, namun realitas kebangsaan hari ini masih menujukkan catatan buramnya realitas kebangsaan kita. Maraknya korupsi, terorisme, intoleransi, kemiskinan dan sebagainya. Menjadi tontonan harian yang setiap jam terekam dalam kehidupan kebangsaan kita.

Apa yang salah..? selamat atau aktor politik kita yang justru mengeksploitasi suport publik untuk kepentingan pribadi mereka. Elit politik kita justru berkoalisi dengan pemilik modal menggerogoti akses kehidupan publik untuk segelintir elit kuasa. Mereka menarik dan tersenyum di atas derita dan jeritan rakyat, itulah realitas kebangsaan kita hari ini setelah 20 thn Repormasi.

Di tengah realitas kebangsaan itu, maka sebuah keharusan bagi kader-kader persyarikatan yang memilki integritas kebangsaan harus berproaktif mengisi ruang-ruang kebangsaan dengan spirit fastabiqul Khairat. Demikian diskusi yang mencuat di acara kegiatan pengajian ramadhan Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah IMM) Maluku yang berlangsung di Aula SMK Muhammadiyah Ambon, kemarin.

Pengajian ramadhan DPD IMM Maluku yang dilaksanakan ini merupakan momentum untuk terus mesugesti kader persyarikatan untuk harus tampil mengisi ruang-ruang kebangsaan dengan gagasan dan ide brilian, sebagi wujud komitmen mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya sebagi tujuan Muhammadiyah itu sendiri. Demikian rilis yang terima dari Ketua DPD IMM Maluku, Lutfi Wael, Senin (28/05).

Pengajian ramadhan ini diisi dengan ceramah dari Dr.Yusftriadi, Ketua STKIP Muhammadiyah Bogor. Ia mengatakan, bahwa kader persyarikatan khususnya Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Maluku, harus berani mengambil peran-peras di ranah kebangsaan. Yusfitriadi yang merupakan salah satu Pegiat Demokrasi di Indonesia ini mengatakan, politik itu bukan soal jabatan/kekuasaan, tetapi sejauh mana kader persyarikatan bisa memainkan "peran" dalam mengisi ruanruang kebangsaan di Maluku dan Indonesia.

Sementara itu, Dr. Nasrudin Umar, pakar Hukum yang juga akedemisi IAIN Ambon, yang juga tampil sebagai penceramah, dalam kesempatan itu, menyampaikan, bahwa kader-kader Muhammadiyah juga harus tampil mengisi ruang-ruang kebangsaan. Jika kader AMM tidak mengisi ruang kebangsaan itu, maka boleh jadi, yang mengisi ruang tersebut adalah orang yang bermental kolonialisme yang mengambil peran itu untuk ikut merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan Dr.Subair, Komisioner Panwaslu Kota Ambon, pada kesempatan yang sama, juga berharap momentum ramadhan ini menjadi momentum bagi AMM Maluku, untuk bisa ikut memberikan penguatan terhadap proses demokrasi yang lagi berlangsung, dengan memberikan gagasan dan ide-ide konstruktif bagi penguatan demokrasi yang subtansial. “ AMM Maluku harus menjadi agent-agen Perubahan dalam rangka menebarkan spirit berfastabiqul khairat (berlomba-lomba untuk mencari kebaikan) di Bumi Al- Mulk ini,” ujar Subair yang juga adalah staf pengajar di IAIN Ambon ini. (Qin)