MALUKUnews, Ambon: Sebelum pencoblosan pada Rabu (27/6) sejumlah lembaga survei merilis hasil survei tentang siapa pasa­ngan calon gubernur dan wa­kil gubernur Maluku yang bakal unggul.

Lembaga-lembaga survei itu, adalah Media Survei dan Strategis (MSS) Maleo Institute dan Sinergi Data Indonesia (SDI). Kedua lemba­ga survei ini mengung­guli pa­sangan Said Assagaff-And­reas Rentanubun (SANTUN).

SANTUN ditempatkan se­ba­gai pemenang dengan du­ku­ngan 34, 70 persen suara. Di­susul pasangan Herman Koe­doeboen-Abdullah Vanath (HE­BAT) 26,30 persen suara, dan pasa­ngan Murad Ismail-Bar­nabas Orno (BAI­LEO) dengan duku­ngan 24,90 persen suara.

SDI juga mengunggulkan SANTUN dengan 35, 00 per­sen suara. Kemudian disusul pa­sangan HEBAT dengan 26,17 persen suara, dan BAI­LEO di posisi ketiga dengan dukungan 25,33 persen suara.

Hasil survei kedua lemgaba ini berbeda jauh dengan hasil survei Konsultan Citra Indonesia dan Lingkaran Survei Indonesia (KCI-LSI).

Hasil survei KCI-LSI bulan Juni menempatkan pasangan BAILEO sebagai pemenang pilkada. Pasangan ini unggul de­ngan 30,0 persen. Urutan kedua ditempati pasangan SANTUN dengan 25,3 persen. Sedangkan posisi ketiga diraih HEBAT dengan 24,6 persen.

Hasil penghitungan cepat atau quick count, yang dila­kukan oleh KCI-LSI tak ber­beda jauh. Pasangan BAILEO tetap unggul, dengan meraih 40,90 persen suara.

Posisi kedua ditempati pa­sa­ngan SANTUN ini 31,58 per­sen, disusul posisi ketiga pasa­ngan HEBAT, dengan memper­oleh 27,52 persen suara.

Dari jumlah pemilih berda­sarkan DPT yang ditetapkan se­banyak 1.149.990 yang terse­bar di 3.358 TPS, KCI-LSI me­ngambil sampel dari 300 TPS yang dilakukan secara acak di seluruh Provinsi Maluku.

Lalu apa kata Akademisi FISIP Unpatti, Victor Ruhu­nela mencermati hasil survei SDI dan MSS yang jauh dari kenyataan?.

“Kami cukup meragukan kerja lembaga-lembaga survei ini, karena jika SDI maupun MMS saat merilis hasil survei dan mengungguli pasangan SANTUN, namun jauh dari fakta maka sangat diragukan profesionalismenya,” ungkap Ruhunela, kepada Siwalima, melalui telepon selulernya, Jumat (29/6).

Menurutnya, bisa saja hasil survei yang dilakukan hanya pesanan kandidat. Karena itu, harus berhati-hati dengan lem­baga-lembaga survei seperti ini.

“Ini lembaga survei yang perlu diselidiki dan harus hati-hati untuk mempercayai lem­baga survei seperti ini, dan ka­lau lembaga ini tidak bisa di­percayai karena banyak sekali lembaga survei yang ada di Indo­nesia, namun kenapa hanya beberapa lembaga survei saja yang melakukan survei dan merilis hasilnya,” katanya. (Sumber: Koran siwalima)