MALUKUnews, Ambon: Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) belum juga mengembalikan uang warga pengungsi asal Dusun Jawa Sakti, Desa Sole, Kecamatan Huamual Belakang senilai Rp. 30 Juta. Uang hasil patungan para pengungsi itu dipinjam Pemda SBB untuk membayar lahan di Dusun Mahua, Desa Sole, Kecamatan Huamual Belakang, yang kini menjadi tempat tinggal tetap mereka.

Warga yang direlokasi di Dusun Mahua akibat bencana alam pada Mei 2017 lalu itu, kini juga belum mendapatkan haknya berupa tempat tinggal layak yang dijanjikan Pemda SBB.

“ Sudah setahun pasca bencana alam kemarin, sampai oras ini kami belum juga mendapatkan hak-hak kami sebagai warga pengungsi. Ada uang kami sebesar Rp. 30 juta belum juga dikembalikan oleh Pemda SBB, “ ujar Kepala Dusun Mahua, Achmad Ady saat menyampaikan keluhannya kepada Malukunews.co via seluler, Rabu (13/12) pagi.

Ady mengatakan, uang sebesar Rp. 30 juta itu diperoleh warga pengungsi dari uluran tangan dari pihak legislator. Uang itu semestinya diperuntukan untuk keperluan kebutuhan korban bencana pada awal warga direlokasi di Desa Soleh. Karena lokasi bencana di Dusun Jawasakti sudah tak layak untuk dihuni maka pihaknya meminta dimediasi untuk ditempatkan di Dusun Mahua.

Ady menerangkan, Saat itu dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) SBB, kami meminta segera ditempatkan dilokasi pemukiman yang layak, maka terjadilah kesepakatan dengan salah satu Warga Desa Soleh untuk menjual lahannya yang kini ditempati para pengungsi di Dusun Mahua. Sesuai perjanjian dengan pemilik lahan, para pengungsi segera membangun pemukiman sementara diatas tanah seluas lima hektare yang akan dibayar oleh Pemda SBB senilai Rp. 100 juta.

Karena Pemda SBB belum langsung membayar lunas harga lahan pada saat itu, pemilik lahan ini meminta DP berupa uang Jaminan sebagai tanda jadi, maka warga menebusnya dengan uang Rp. 30 juta itu.

“ Jadi, ada tunggakan senilai Rp. 70 juta yang harus dibayarkan Pemda SBB kepada pemilik lahan. “ Terang Ady. Kata Ady, Pemda SBB belum juga membayar uang lahan yang dijanjikan itu, belum diketahui apa kendalanya hingga sampai setahun ini utang itu masih terkatung-katung.

Ady mengharapkan agar pemerintah daerah SBB segera melunasi tunggakan lahan senilai Rp.100 juta kepada pemilik lahan, karena dari uang itu sebesar Rp. 30 juta adalah milik warga pengungsi. (bil)