MALUKUnews, Piru: Sejumlah perusahan pabrik sagu di Kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB), yang membuang limbah ke sungai dan laut kian memprihatinkan karena dinilai merusak lingkungan. Meski kondisinya sangat mengkhawatirkan, namun sejauh ini belum ada upaya tegas dari pemerintah daerah setempat.

Pantauan di lokasi pengelolaan sagu yang berlokasi di Dusun Namatotur, Desa Latu, Kecamatan Amalatu, sejumlah perusahan sagu yang sudah beroperasi lebih dari empat tahun terakhir ini, dinilai sangat mencemari lingkungan. Pasalnya sampai saat ini limbah hasil pengolahan sagu itu masih di buang ke sungai dan laut, tanpa melalui penyaringan atau netralisasi terlebih dulu. Kondisi ini jelas membuat air sungai di daerah itu mulai keruh dan menimbulkan bau yang menyengat, serta menyebabkan kondisi sungai menjadi tertutup limbah sagu tersebut.

Ada tiga pabrik sagu yang ada di Kecamatan Amalatu ini, antara lain di Desa Rumakay, Desa Latu, dan Dusun Namatotur. Ketuga idustri sagu ini terus beroperasi, dan menyebabkan pencemaran lingkungan yang sangat memprihatinkan. Limbah hasil pengelolaan sagu yang di buang secara langsung ke sunggai di rasakan sangat mengganggu aktifitas warga yang menggantungkan hidup di sungai tempat pengelolaan sagu tersebut.

Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Ekdar Tella, Sabtu, (18/02), mengatakan, perlu adanya perhatian serius dari Pemda SBB dalam hal ini dinas perindustrian dan dinas lingkungan hidup meninjau industri pengelolaan sagu tersebut agar pencemaran lingkungan tidak terus berlangsung.

Saya yakin industri pengelolahan sagu ini belum memiliki izin dan suda pasti tidak memiliki amdal. Sebab bila kita lihat system pengelolahan yang semraut (asal jadi) dan tidak adanya papan perusahan atau terkesan tertutup. “ Hal ini menimbulkan kecurigaan bagi kami selaku tokoh masyarakat di negeri ini,” ujar Ekdar. (Jack)