MALUKUnews. Ambon: Ditahannya mantan Kasatnarkoba Polres Piru Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Iptu Junus Tanikwale sebelum dimejahijaukan pekan ini, bakal mengungkap jejaring narkoba di daerah itu lebih jauh.

Informasi yang dihimpun Kabar Timur, Badan Narkotika Nasional (BNN) Maluku telah memiliki data lengkap soal jaringan ini yang ternyata turut melibatkan pejabat daerah di Kabupaten berjuluk “Saka Mese” itu.

“Siapa bandar, kurir, sampai pejabat publiknya petah itu sudah kita kantongi. Intinya kita tidak diam, kita bekerja,” ungkap sumber BNN Provinsi Maluku, Sabtu, pekan kemarin. Sumber menjelaskan, narkotika wajib digulung. Karena selain menyasar para pejabat daerah, juga generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa. “Untuk pelajar mahasiswa, porsinya 2,8 persen dari total prevalensi narkoba yang ada. Itu hasil penelitian BNN,” ungkap sumber.

Kabupaten SBB memang menjadi target BNN. Sejumlah pejabat publik di daerah tersebut disinyalir akrab dengan barang haram tersebut. Data yang berhasil dikantongi badan anti narkotika itu menyebutkan, barang haram ini dipasok dari Jakarta melalui pelabuhan laut Yos Sudarso Ambon.

Dari hasil pemeriksaan mantan Kasatnarkoba Polres Piru, juga mantan Sekretaris DPRD Kabupaten SBB, Markus Teken, pihak BNN telah mempunyai peta narkotika di daerah tersebut.

Diberitakan sebelumnya, perkara mantan Kasat Resnarkoba Polres Piru Iptu Justus Tanikwale akhirnya dinyatakan lengkap. Justus alias “Utus” Jumat (6/4) pekan kemarin diserahkan oleh penyidik Direktorat Narkotika Polda Maluku kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Piru Kabupaten SBB. Perwira Polri yang diberi inisial JT ini sementara ‘diinapkan’ di LAPAS Piru.

Kasipenkum Kejati Maluku Samy Sapulette menyatakan, JT kini menjadi tahanan khusus LAPAS Piru. “Tidak menutup kemungkinan, kalau JPU sudah tuntaskan dakwaannya, perkara JT siap dilimpahkan ke pengadilan. Jadi tidak harus menunggu 20 hari lagi dari sekarang,” kata Samy kepada Kabar Timur, di kantor Kejati Maluku, Jumat pekan kemarin.

Menurut Samy Sapulette tersangka JT didakwa melanggar Pasal 111 ayat 1 dan Pasal 112 ayat 1 serta Pasal 116 ayat 1 Undang-Undang RI No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Sekadar tahu saja, Justus Tanikwale ditetapkan tersangka dari hasil pengembangan penyidikan terhadap mantan Sekwan SBB Markus Teken. Dilanjutkan dengan penggeledahan rumah dinas dan ruang kerjanya oleh Ditresnarkoba dan Propam Polda Maluku. Dari penggeledahan itu tim gabungan menemukan uang tunai Rp 3,6 juta dan 10 butir pil PCC. Uang dan pil tersebut telah diamankan sebagai barang bukti.

Uang tunai ditemukan di rumah dinas Yustus yang berada di perumahan Polri, Kota Piru, Kabupaten SBB. Sementara pil PCC yang dikemas menggunakan plastik putih bening, didapat di ruang kerja perwira dua balak itu.

“Penggeledahan dilakukan pada 3 Februari 2018. Ada barang bukti yang ditemukan. Tapi bukan sabu. Uang Rp 3,6 juta dan 10 butir pil PPC,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Muhammad Roem Ohoirat kepada Kabar Timur, Rabu (7/2) lalu.

Setelah menemukan uang tunai jutaan rupiah, penyidik menginterogasi Justus. Dia mengaku sebagian uang tersebut merupakan hasil dari penjualan sabu kepada Markus Teken. Pengakuan Justus dihadapan penyidik seperti menelan ludahnya sendiri. Sebelumnya Justus matia-matian mengelak keterkaitannya dengan kasus Markus.

Sementara Markus dibekuk saat mengkonsumsi sabu di kamar 103 penginapan Kawiasih II Desa Waimital, SBB pada 29 Januari 2018 lalu. Barang haram itu dibeli dari Yustus senilai Rp 1,5 juta. (KTA)

Sumber: Koran Kabar Timur