MALUKUnews, Ambon: Masyarakat yang tinggal di Tanah Besar atau biasa disebut Ukarlean yang ada di Kecamatan Kiandarat dan Tutuk Toli, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mengaku terusik dengan tayangan salah satu stasiun Trns7 dalam program berita On The Spot, yang telah melecehkan suku Bati yang ada di Ukarlean itu.

Salah Satu Tokoh Masyarakat Ukarlean, Jalil Rumfot, dalam rilisnya yang diterima Malukunews.co, Senin (16/10), mengatakan, ia dan keluarga besar Ukarlean yang tinggal di bawah kaki gunung Bati, tempatnya suku Bati (suku pertama yang mendiami pulau Seram), mengutuk keras pemberitaan Trans7 yang telah mengatakan, bahwa suku Bati mirip hewan predator (kelelawar dan monyet) pemakan anak kecil. “ Kami tak terima atas sebutan suku Bati mirip hewan predator itu. Trans7 hanya mengarang cerita dan sudah merusak harga diri kami,” ujar Jalil.

Kata Jalil, perlu di ketahui, bahwa suku Bati adalah manusia biasa seperti kita saat ini. Bukan manusia seperti apa yang diberitakan Trans7 itu. “Kita harus banyak belajar dari suku Bati, terutama terkait membangun hubungan silaturahmi antara sesama masyarakat, baik sesama masyarakat Bati yang berada di Kecamtan Kiandarat dan Bati yang ada di Kecamatan Tutuk Tolo, maupun dengan masyarakat lainnya yang ada disekitarnya. Bahkan anak-anak suku Bati juga bersekolah hingga ke perguruan tinggi dan ada juga yang telah menjadi PNS,” ujar Jalil.

Jalil mengatakan, Trans7 telah mewawancarai sumber yang salah terkait keberadaan suku Bati. Bahkan sumber yang diwawancarai dalam tayangan program berita On The Spot itu bukan berasal dari masyarakat Pulau Seram. “ Kami berharap pihak Trans7 segera melakukan klarifikasi dan meminta maaf atas pemberitaan yang melecehkan suku Bati itu,” tegas Janlil. Jalin yang juga mantan Ketua organisasi paguyuban Himpunan Pemuda Pelajar dan Masyarakat Tutuk Tolu (HIPPMAT) ini, kini sedang melakukan koordinasi dengan rekan-rekannya untuk menuntut pihak Trans7 yang telah melecehkan warga mereka. “ Kami masih memberikan kesempatan untuk pihak Tran7 supaya segera menglarifikasi pemberitaannya yang telah melecehkan kami dan masyarakat SBT pada umumnya,” pinta Jalil.

Jalil pun memberikan saran kepada pihak Trans7, jika mau meliput tentang kehidupan suku Bati, harus datang ke negeri kami. Kami siap memberikan referensi. Kepala-kepala desa yang berada di dataran Tanah Besar, tempat berdiam suku Bati itu, siap memberikan apa saja yang mau tanyakan pihak Trans7. “ Kami ingin kehidupan suku Bati ini bisa diekpos secara benar,” tutur Jalil dalam rilisnya itu. (Qin)