MALUKUnews, Ambon: Kasus gizi buruk yang dialami empat orang anak di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, membuat prihatin Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku.

Sekretaris Umum DPD IMM Maluku, Baneli Kotarumalos, dalam rilisnya yang diterima Malukunews.co, Senin (03/12), mempertanyakan ada apa dengan tata kelola pemerintahan di SBT sehingga bisa terjadi gizi buruk di kabupaten yang bertajuk Ita Wotu Nusa ini.

Kotarumalos juga mempertanyakan kinerja dinas kesehatan dan instansi tehnik lainnya di SBT yang dinilai tak mampu mengurus masyarakat disana.

Gizi buruk ini, kata Kotarumalos, meuprkan suatu problem yang sangat manjatuhkan martabat daerah dan pemerintah itu sendiri. “ Kita saat ini hidup di alam terbuka yang serba teknologi, komunikasi dan informasi. Bahkan penunjang Alkes dan teknologi kesehatan oleh pemerintah serta penanganan medis menjadi perhatian khusus. Baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Loh, kenapa gizi buruk masih terjadi di Maluku terutama di SBT itu, ini khan lucu,” ujar Kotarumalos.

Kotarumalus pun mendesak Bupati SBT supaya segera mengevaluasi kepala dinas kesehatan dan instansi tehnik lainnya, atas kinerja mereka selama ini. Kasus gizi buruk yang melanda SBT telah mencoreng citra Maluku dan itu terjadi di SBT, yang kebetulan saya sendiri juga berasal dari SBT,” ujar Kotarumalos dengan kesalnya.

Seperti diberitakan sejumlah media, empat anak yang menderita gizi buruk itu, beberapa waktu lalu dilarikan ke RSU Bula, ibu kota SBT. Mereka adalah, Ona Lasari (3) tahun dan adiknya Ishak Lasari (1,10) asal kecamatan Totuk Tolu. Sedang Indra Rumalutur (1,7) tahun dan Amar Kotawasih (4,5) tahun merupakan warga kecamatan Pulau Panjang, kabupaten Seram Bagian Timur.

Dokter Hasriza Eka Putra mengatakan, empat anak tersebut dalam penanganan intensif, karena kondisi mereka memprihatinkan, tampak pada berat badan mereka tidak sebanding dengan usia.

"Ona Lasari 7 Kg, Ishak Lasari 6 Kg, Amar Kotawasih 11 Kg, dan Indra Rumalutur 6,3," jelasnya.

Disamping gizi buruk, mereka juga memiliki penyakit penyerta. Kondisi yang paling buruk dialami Indra Rumalutur. "Dia mengalami penurunan kesadaran per hari," urainya.

Sedang kondisi Ona Lasari dan adiknya Ishak Lasari berangsur pulih. "Pasien Amar terus dalam penanganan karena kondisinya belum membaik," kata Eka.

Eka mengatakan, perawatan intensif akan dilakukan, karena kondisi empat anak tersebut berbeda. "Masing-masing anak dengan kondisi beda-beda, tapi umumnya fase rehabilitasi, kita upayakan kondisi mereka berangsung membaik," ujarnya seperti dikutif dari gatra.com. (Qin)