MALUKUnews, Ambon: Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff mengatakan ikatan hubungan persaudaraan antar sesama sering kali alami distorsi oleh masalah baik politik maupun ekonomi yang mengakibatkan kerenggangan hubungan sosial antara sudara.

Bahkan kata Assagaff, tidak sedikit dari kita yang mengidap penyakit double standart atau standar ganda alias abuleke. Ketika bersama atau ada maunya bicara sangat nasionalis, pluralis dan egaliter, tetapi ketika tidak bersama menjadi sangat primordialistis.

“ Yang begini ini, orang Ambon bilang Labila-Kabila, yakni lapar bicara laeng (Labila) dan kanyang bicara laeng (Kabila), ” ujar Assagaff disambut riuh peserta dalam sambutannya pada acara seminar yang bertajuk " Dari Maluku untuk Indonesia Kita Rawat NKRI yang Damai dan Berkeadilan Melalui Budaya Menyanyi di Islamic Center, Ambon, kemarin.

Acara seminar ini bagian dari rangkaian kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional I yang digelar di Kota Ambon, dengan mengangkat tema Membangun Persaudaraan Sejati.

Dalam sambutannya itu Assagaff mengangkat tema tentang Rumah Belajar Hidop Basudara dalam Keragaman Agama, Budaya dan Politik. Menurutnya tema tersebut sangat tepat menjadi bahan perenungan setiap anak bangsa saat ini, terutama di saat bangsa Indonesia dihadapkan pada pelbagai persoalan dalam membangun bangsa ini.

Assagaff berharap supaya membangun kerukunan dan perdamaian aktif meniscayakan terbangunnya pertalian sejati hidup orang basudara dalam semua dimensi kehidupan.

“ Karena problem kita selama ini, ikatan persaudaraan sering terdistorsi oleh masalah pertarungan di ranah politik dan ekonomi yang mengakibatkan pendarahan di ranah sosial budaya, “ terangnya. (nona)