MALUKUnews, Ambon: Perkembangan teknologi dirasa perlu untuk memperbaharui metode perhitungan produksi padi. Studi dilakukan oleh BPS bersama Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) pada tahun 1988 telah mengisyaratkan overestimasi luas panen sekitar 17,07 persen.

BPS bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional(Kementerian ATR/BPN); Badan Informasi dan Geospasial (BIG); serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode Kerangka Sampel (KSA).

Kepala BPS Provinsi Maluku, Dumangar Hutauruk, menjelaskan Luas panen padi di Provinsi Maluku periode Januari-September 2018 sebesar 17,72 ribu hektar. Dengan memperhitungkan potensi sampai dengan Desember 2018, maka luas panen tahun 2018 adalah 23,32 ribu hektar.

"Secara garis besar, tahapan dalam perhitungan produksi beras adalah menetapkan luas lahan bahan baku sawah nasional dengan menggunakan ketetapan Menteri ATR/Kepala BPN-RI No.399/Kep-23.3/X/2018 tanggal 8 Oktober 2018. Luas Lahan baku sawah nasional tahun 2018 adalah sebesar 7.105.145 hektar. Sebagai perbandingan, luas lahan baku sawah nasional menurut SK Kepala BPN-RI No.3296/Kep-100.18/IV/2013 tanggal 23 April 2013 adalah 7.750.999 hektar." Ujar Kepala BPS Dumangar Hatauruk kepada media, Kamis (01/11).

Menurutnya, produksi Padi di Provinsi Maluku periode Januari - September 2018 sebesar 68,91 ton Gabah Kering Giling (GKG). Berdasarkan potensi produksi sampai Desember 2018, maka diperkirakan total produksi pada tahun 2018 sebesar 90,89 ribu ton GKG. Ditambahkannya, jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, maka produksi padi tersebut setara dengan 38,39 ribu ton beras.

Dari 82 Kota IHK di Indonesia, pada Oktober 2018 IHK Kota Ambon menduduki peringkat 80, inflasi bulanan tahun kalender Kota Ambon menduduki peringkat 62 dan inflasi tahun ke tahun Kota Ambon menduduki peringkat 81.

Dari 82 Kota IHK di Indonesia, pada Oktober 2018 IHK Kota Tual menduduki peringkat I, inflasi bulanan Kota Tual menduduki peringkat 9, inflasi tahun kalender Kota Tual menduduki peringkat 82, serta inflasi tahun ke tahun Kota Tual menduduki peringkat 82. (Nona)