MALUKUnews, Ambon: Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku merespon peristiwa panas pela antara Desa Laha, Tial, Amahusu dan Desa Hatalai yang bertempat di gereja Imannuel, Desa Amahusu, Minggu (02/12), kemarin. MUI pun bersikap atas ritual panas pela itu.

Pernyataan sikap MUI Maluku tertanggal 5 Desember 2018 ini merespon aspirasi yang berkembang di kalangan masyarakat muslim Maluku. Termasuk informasi yang sedang berkembang di media sosial yang memicu polemik di kalangan umat muslim.

Berikut ini isi pernyataan sikap lengkap MUI Provinsi Maluku yang ditandatangani Ketua MUI Provinsi Maluku, Dr. Abdullah Latuapo, M.PdI dan Sekretaris MUI Maluku, Drs. H. Abdul H. Latua S, yang juga diterima Malukunews.co, Rabu (05/12).

Peryataan sikap ini guna menjadi perhatian dan pegangan bagi seluruh masyarakat dan khususnya umat islam di Provinsi Maluku. Pernyataan sikap itu sebagai berikut:

Pertama, MUI Provinsi Maluku menyesalkan kejadian dikumandangkannya adzan dan pembacaan rawi di dalam gereja yang telah menimbulkan polemik dan keresahan dikalangan umat islam dan masyarakat secara umum.

Kedua, dalam rangka menjaga dan memelihara kerukunan antar umat beragama yang telah terjalin dengan sangat baik di Maluku, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku menghimbau agar kegiatan-kegiatan keagamaan yang berpotensi menimbulkan polemik dkalangan masayarakat agar dihindari

Ketiga, bahwa terkait dengan tuntutan dan dinamika yang berkembang di masyarakat baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui media sosial akan segera ditindak lanjuti oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku

Keempat, MUI Provinsi Maluku menghimbau kepada semua komponen masyarakat untuk tetap bersama-sama menjaga dan memelihara stabilitas keamanan di Maluku. (B-02)