MALUKUNEWS, Ambon: Desa Buano Utara di Pulau Buano, sebelah barat Pulau Seram, Maluku. Masyarakat di tempat itu meyakini, nenek moyang mereka merupakan cikal bakal identitas mereka yang kebal dari gerusan zaman. Pertengahan Maret ini menjadi momen terpenting bagi mayoritas warga desa. Mereka sibuk mempersiapkan pemugaran satu dari 30 rumah pusaka yang berdiri di Buano Utara.

Atas dasar penghormatan terhadap leluhur, mereka berkewajiban melakukan pemugaran rumah pusaka yang sudah terlihat rapuh dimakan usia. Terakhir kali warga mengganti pada 1957 silam. Bagi mereka, rumah pusaka merupakan harta berharga.

Salah satunya milik marga Tuhuteru, yang masih tampak kokoh. Di tempat itu tersimpan berbagai jenis peninggalan berharga. Masyarakat di tempat itu sama sekali tak boleh mengabaikan rumah pusaka, yang menyimpan jejak panjang sejarah etnis Alifuru.

Etnis tertua kepulauan Maluku, yakni Kapiten dari tipe etnis Alifuru masa lampau. Alifuru bermakna manusia pertama. Syahdan sejak dahulu, telah menetap di Pulau Seram suku bangsa Alifuros yang berasal dari campuran Kaukasus Mongol dan Papua, yang dikenal sebagai suku Alune dan Wemale.

Perkembangan zaman mendesak kaum Alifuru mulai meninggalkan tempat kediaman mereka dan menyebar ke pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Seram. Penyebaran itu memperluas jejak Alifuru lantaran nenek moyang mereka tetap sama. Dari Nunusaku atau keturunan etnis Alunu dan Wemale, nenek moyang menjadi kata kunci penduduk Desa Buano Utara.

Prosesi panjang pemugaran rumah pusaka menjadi salah satu cara untuk melestarikan peninggalan pendahulu. Keterbatasan hidup di pulau kecil membuat warga Desa Buano tak merasakan listrik 24 jam. Pengadaan air juga menjadi masalah paling memusingkan.

Untuk aktivitas mandi atau cuci, warga di desa itu menunggu hujan turun dan air payau. Untuk mendapatkan air minum, mereka harus berjalan kaki hingga sejam lebih menuju mata air di pungung bukit.

Ketika cuaca buruk menghadang, sebagian warga banting setir menyuling minyak kayu putih di hutan. Pantang menyerah merupakan ajaran nenek moyang yang dipegang teguh sejak lama.

Meski tak ada catatan tertulis, ajaran nenek moyang di Buano tumbuh dari generasi ke generasi. Termasuk, ketika sesepuh adat menggelar Mauna Tenun.

Salah satu yang wajib dilakukan ketika pemugaran, yakni melantunkan syair kisah perjalanan leluhur Buano. Tahap pemugaran memasuki fase krusial. Pemali, lili menani, atau tiang utama lama akan diganti lantaran termakan usia. Lubang bekas tiang pancang akan berganti. Lubang harus dijaga agar terhindar dari hal-hal buruk.

Prosesi pemugaran akan diawali permintaan maaf kepala datuk kepada sesepuh adat. Selanjutnya, doa menggunakan bahasa tanah atau bahasa Buano Kuno, yang dipimpin Ali Piris, sesepuh yang secara khusus merapal permohonan kepada Sang Kuasa.

Setelah itu, warga pun menebang kayu. Jenis kayu pengganti harus sama agar karakter rumah pusaka tak berubah. Dati atau sesepuh adat memimpin rombongan ke hutan. Memeluk batang, mengelilingi pohon, merupakan prosesi wajib agar penebangan berjalan lancar.

Tak boleh juga membawa batang ke perkampungan sembarang jalur. Mereka harus meniru persis lintasan nenek moyang ketika tiba di Buano. Dari daratan melewati lautan.

Dalam tradisi adat Buano terdapat Marawang atau sosok penghadang yang merupakan sosok mencegah, agar kayu tak gagal masuk kampung. Marawang punya hak menolak kayu datang lantaran mereka merupakan bagian dari marga yang tersingkirkan. Mereka telah keluar dari aturan adat karena menikah dengan marga lain.

Sebuah perlawanan datang dari Pata Nyai atau perempuan pilihan pengusir Marawang. Pertarungan pecah. Pata Nyai mengusir keras lelaki Marawang. Totalitas adat membuat mereka tumbang kerasukan.

Memugar rumah pusaka merupakan sebuah pengabdian. Meski Marawang kembali menghadang, rumah pusaka harus tetap tegak. Warga Buano pun tak ingin sejengkal pun melupakan peran para leluhurnya. (Lip6)