MALUKUNews, Ambon: Stigma Republik Maluku Selatan (RMS) seakan tetap menyeruak dan melegitimasi kedudukan masyarakat Maluku di nusantara ini. RMS yang kerap disebut sebagai gerakan makar, ternyata mengisahkan pandangan yang mengalami pergeseran nilai. Konotasi RMS yang awalnya terlahir atas gerakan ideologi kini mengalami pergeseran nilai. Demikian diungkapkan salah satu peserta konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat, Ali Masykur Musa dalam acara debat kenegaraan yang digelar komite konvensi Partai Demokrat di Islamic Centre Ambon, Selasa Kemarin.

Menjawab pertanyaan Panelis Dekan Fakultas Unpatti, Jusuf Madubun atas pertanyaannya, sejauh mana pandangan para calon terhadap stigma RMS di Maluku. Lebih jauh Ketua Penasehat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini menjelaskan, stigma RMS yang menyudutkan status sosial masyarakat Maluku tidak terlepas dari bentuk perhatian dan tanggungjawab pusat terhadap daerah.

Menurutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi reaksi gerakan separatisme RMS dikarenakan ketidakadilan hubungan transformasi kebijakan pusat terhadap daerah. Faktor lain yang juga mempangaruhi adalah karena merosotnya nilai-nilai kearifan lokal, nilai-nilai saling menghargai antar sesama mempengaruhi reaksi tatanan masyarakat di Maluku.

“ Dulu kita kenal gerakan separatis RMS sebagai gerakan ideologi, seiring perkembangannya, gerakan separatisme RMS bergeser pada nilai ekonomi. Masaalah pemberdayaan dan kemiskinan di Maluku kemudian melahirkan semangat perjuangan untuk mendapatkan perlakuan yang adil di Negara ini, “ Ujarnya. (Bil)