MALUKUnews, Ambon: Patrick Papilaya (29) salah seorang pasien sembuh positif COVID-19 di passo, berbagi kisahnya sembuh dari paparan virus Corona 19.

Patrick, yang ditemui media ini di kantor DPRD Provinsi Maluku, Senin(30/11) bertutur, sejak dinyatakan positif COVID-19 hasil tes usap (swab test) pada 28 Juli 2020, membuat saya syok dan sempat down.

"Kemarin itu saya sempat mengikuti swab di DPRD provinsi Maluku di mana swab yang saya lakukan itu pada gelombang ketiga, karena sebelumnya di DPRD provinsi sempat melakukan swab pada tahap pertama dan kedua. Akhirnya pada saat itu tanggal 28 Juli 2020 pagi saya bisa mengikuti swab di DPRD Provinsi Maluku," kata Patrik.

Ia mengakui hasil swab ia terima satu minggu terlepas dari jadwal swab yg ia lakukan di DPRD, di mana pada 5 Agustus 2020 hasil swab yang telah dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Maluku bahwa ia dinyatakan positif Covid-19.

"Hal ini kemudian membuat saya sedikit syok dan juga down karena berpikir bahwa ketika saya menjalani proses karantina. Saya dawn karena kondisi istri dan anak pada saat itu," ujarnya.

Ia mengatakan jujur hanya dia yang bekerja di dalam keluarga, akan tetapi sesuai arahan dari dinas kesehatan provinsi Maluku bekerjasama dengan DPRD bahwa akan memperhatikan keluarga saya yaitu anak dan istrinya. Dimana saya disuruh untuk menjalani karantina waktu itu memang ada beberapa tempat yang ditawarkan oleh pemerintah kota dalam hal ini pihak Puskesmas untuk jalan karantina tetapi saya sendiri memilih untuk di LPMP karena itu wilayahnya pemerintah provinsi.

Kemudian pada 6 Agustus 2020 ia pergi ke LPMP untuk menjalani karantina, jadi ia menjalani karantina sendiri secara pribadi karena baru pernah terkena covid.

"Saya seperti bingung sendiri apa yang akan didapatkan di sana kemudian saya sempat berpikir karena banyak orang atau masyarakat sendiri yang pernah menjalani atau pernah terkena covid-19 di tempat karantina mereka mengeluh, tapi nyatanya apa yang saya dapatkan di sana tidak seperti anggapan masyarakat pada umumnya," ungkapnya.

Ia mengungkapkan selama menjalani karantina disana, mereka satu hari diberi makan 5 kali yakni sarapan pagi, makan siang, snack sore dan makan malam. Kemudian terus kita juga diberi buah-buahan dan obat-obatan sehingga memang dalam posisi ini saya melihat bahwa tim dokter atau relawan yang ada di sana benar-benar memperhatikan kita dari aspek kesehatan dan juga dari segi makanan sendiri.

Lanjutnya, kita juga difasilitasi dengan begitu banyak tempat olahraga di sana, kita bisa main tenis ada lapangan, main bola dan berutinitas seperti biasa meskipun memang dalam posisi covid-19.

"Saya masuk dengan gejala OTG (Orang Tanpa Gejala) selama dikarantina saya menjalani swab beberapa kali untuk memastikan secara pribadi bahwa saya tidak lagi terkena covid dan itu adalah salah satu syarat jika saya ingin keluar dari LPMP,"cetusnya.

Ia menceritakan waktu itu saya sempat menjalani tes Swab selama 4 kali, di mana pada posisi 2 dan 3 saya juga masih positif covid, kemudian pada hasil swab yang ke-4 di tanggal 23 Oktober 2020 saya mengikuti swab dan masih positif. Selanjutnya di tanggal 27 Oktober 2020 saya juga lakukan Swab lagi dan masih positif, terakhir 30 Oktober 2020 saya menjalani swab terakhir dan hasilnya negatif.

Ia berharap, masyarakat tidak merundung para mantan pasien COVID-19, sebab ini bukan aib dan dia pun tidak menyangka terpapar virus ini. Ia bersama sekeluargapun tidak pernah melakukan perjalanan ke luar daerah. Kesulitan ekonomi masih dihadapi keluarganya selama ia menjalani masa karantina.

"Saya tidak mengeluh, tapi pandemi ini membuat penghasilan keluarga tidak stabil bahkan karena kebutuhan anak dan istri saya semua dari saya karena hanya saya yang bekerja, belum tahu harus mendapatkannya dari mana," ucapnya.

Patrick mengajak masyarakat berdoa dan berikhtiar untuk terhindari dari virus corona.

Dampak corona juga sangat terasa khususnya pada perekonomian rumah tangga. "Semoga masyarakat tetap patuh dan tidak ada lagi kasus baru di daerah ini," ucapnya. (Nona)