MALUKUnews, Namrole: Awalnya setelah menerima surat pemberitahuan akan adanya pasokan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari para pemasok BBM ilegal. Bahkan, setelah dilaporkan oleh masyarakat dan wartawan pun, pihak Polsek Namrole yang dikomandani oleh AKP Ahmad Setyo Budiantoro ternyata masih tutup mata alias tidur.

Namun setelah, wartawan menghubungi langsung Kapolres Buru, AKP Komaruz Zaman dan diperintahkan untuk bertindak, barulah pihak Polsek Namrole mulai bergerak, walaupun pergerakan itu terkesan asal-asalan.

Sebab, beberapa anak buah yang dikerahkan dari banyaknya anak buah yang dimiliki Polsek Namrole tak membuahkan hasil dan hanya melapor tidak ada aktivitas pemasokan BBM ilegal itu kepada sang Kapolsek. Padahal, lokasi, pelaku dan juga waktu aktivitas pemasokan BBM ilegal itu telah disampaikan secara gamblang oleh wartawan via SMS kepada Kapolsek.

“Waktu itu, saya sudah perintahkan anak buah untuk turun ke lapangan. Tapi setelah, balik dia lapor tidak ada, tapi ada kapal di Oki Baru saja,” akui Kapolsek. Namun, lanjut Kapolsek, setelah adanya laporan lagi oleh wartawan soal adanya aktivits bongkar muat BBM ilegal yang dilaksanakan oleh para pemasok BBM ilegal, dirinya baru memerintahkan lagi anak buahnya untuk turun langsung ke lapangan.

“Kita langsung mengamankan 80 cirigen premium yang diisi pada cirigen 20 liter. Kemudian kapal pun kita amankan. Dimana, di kapal juga terdapat 318 cirigen premium. Jadi, sesuai dokumentasi, walaupun kita belum periksa satu per satu cirigennya, tapi sepertinya semua itu premium,” ujarnya.

Ketika ditanya, mengapa pihaknya tidak melakukan langkah-langkah penyitaan terhadap sebanyak 402 ciregen premium atau 8,04 ton premium yang telah didistribusikan ke para pengecer di seputaran Kota Namrole karena merupakan barang bukti, Kapolsek mengaku pihaknya takut jangan sampai ada persolan yang bakal timbul setelah pihaknya melakukan hal itu.

“Kita tidak bisa sita di pengecer karena bisa menimbulkan masalah,” ungkapnya. Namun yang pasti, lanjutnya, sejauh ini pihaknya telah menindak lanjuti kasus ini dengan memeriksa empat orang saksi dari pihak awak kapal.

“Keempat saksi tersebut terdiri dari La Jilu (Nahkoda Kapal), La Arsad (Komprodor Kapal), La Milo (ABK) dan La Rinlo (Kepala Kamar Mesin),” ujarnya. Walau begitu, pihaknya belum bisa memastikan apa kesimpulan sementara hasil pemeriksaan terhadap keempat saksi itu.

“Belum ada kesimpulan dari hasil pemeriksaan saksi. Nanti sajalah, kalau sudah fiks semunya dulu baru saya kasih tahulah. Tapi, ada kemungkinan kita akan periksa saksi dari pihak kapal lagi, tapi kalau keterangannya tetap sama, maka kita pakai yang sudah diperiksa saja,” ungkapnya.

Sementara terkait dengan dua orang caleg pemasok yang harusnya dijadikan tersangka dan ditahan dalam kasus tersebut, Kapolsek mengaku bahwa pihaknya baru memanggil keduanya untuk diinterogasi menyangkut kasus tersebut. Tetapi, Kapolsek tidak menjelaskan secara detail hasil dari proses interogasi yang dilakukan terhadap kedua orang itu. “Kita hanya panggil untuk sebatas interogasi saja. Sebab, kita prioritskan untuk pemeriksaan saksi dahulu,” ujarnya.

Namun, ketika disinggung soal adanya hubungan kedekatan yang manis antara sang Kapolsek dengan Direktur PT. Rianita Abadi, Ratna mengingat Kapolsek merupakan mantan Kapolsek Leihitu yang tentunya bakal mempengaruhi proses hukum yang dilakukan, bakal kasus ini bakal kandas. Kapolsek tidak banyak berkoar, namun dirinya tidak membantah bahwa memang dirinya pernah dekat dengan Ratna.

“Dulu saya kapolsek disana. Jadi, kalau sebatas teman sich ia,” bebernya. Menurut Kapolsek, dirinya sama sekali tidak akan kompromi dengan kasus ini, walaupun dirinya merupakan teman dekat Ratna ketika masih bertugas di Polsek Leihitu. Sebab, kalau pun sebagai teman dan akan main mata dengan Ratna Cs, tentunya Ratna sudah menghubunginya untuk membicarakan menyangkut dengan kasus yang sedang ditangani pihaknya itu dan turut melibatkan Ratna sih kawan lama.

Sementara itu, bukan hanya Kapolsek yang punya hubungan kedekatan dengan Ratna, tetapi Kanit Intel Polsek Namrole, Brigpol La Irwan pun memiliki hubungan dekat dengan Ratna, karena Brigpol La Irwan merupakan pemasok BBM ilegal yang pernah juga berhubungan langsung dengan Ratna, bahkan pernah menjadi kaki tangan Ratna untuk mengatur dan mendistribusikan BBM ilegal milik Ratna di Namrole.

Tak hanya itu, Brigpol La Irwan yang pernah diberitakan sebelumnya terkait kasus 14 ton BBM ilegal yang melibatkan dirinya ini pun memiliki kedekatan dengan Amir Buton dan Husein Seknum yang merupakan pemasok BBM ilegal yang diambil dan bekerja sama dengan orang yang sama yakni, Ratna.

Bahkan, dari berbagai sumber Siwalima, diduga kuat bahwa aktivitas yang dilakukan oleh Amir Buton Cs pun telah diback up oleh pihak Polsek Namrole, baik Kapolsek maupun Brigpol La Irwan.

“Saya juga sudah sampaikan ke Pak Kapolres, apabila dalam proses kasus ini ada kendala, maka kita minta back up dari Polres atau bila perlu kasusnya dilimpahkan ke Polres supaya tidak ada penilaian yang aneh-aneh,” kata Kapolsek.

Lebih lanjut Kapolsek mengaku, bahwa dirinya tidak ingin menjadi tumbal dalam kasus semacam ini, sebagaimana pernah dialami oleh mantan Kapolsek Namrole, AKP B Seleky yang memasang dada untuk menanggung sanksi atas kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya, Brgipol La Irwan yang tersangkut langsung dengan kasus 14 ton BBM Ilegal beberapa waktu lalu. Olehnya itu, pihaknya tetap akan memproses kasus ini sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Saya nggak mau karena persoalan sepeleh gini. Orang lain yang buat dosa, tapi saya yang harus nanggung akibatnya,” paparnya. (Elvis)