MALUKUnews.co, Namlea: Aktifitas pengolahan emas sistem rendaman, dengan menggunakan obat-obatan kimia yang berbahaya di gunung botak, kabupaten Buru saat ini, masih terus berlangsung.

Bahan material emas ini di keruk, dari aliran sungai yang berdekatan dengan lokasi aktifitas rendaman. Ada juga yang diambil dari gunung, dan sepanjang aliran sungai di jalur B dan C. Akibatnya air sungai yang ada di wilayah itu berubah warnanya menjadi kecoklatan.

Reporter Malukunews.co, Edhy Latuconsina, Senin (02/08), langsung dari lapangan melaporkan, di Desa Dafa, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, khususnya di jalur B dan C sepanjang sungai, tampak terlihat aktifitas pengolahan ilegal itu masih terus berlangsung.

Aktifitas tambang illegal di gunung botak juga masih terus berlangsung. Tidak ada satupun aparat yang melakukan pengamanan di lokasi gunung botak. Aparat hanya bisa terlihat, saat ada penyisiran di lokasi itu saja. Bahkan dalam penyisiran pun, lokasi rendaman tersebut sama sekali tak tersentuh. Ada apa?

Informasi yang diperoleh Malukunews.co di lapangan menyebutkan, sistem rendaman dengan menggunakan obat-obatan kimia berbahaya ini, dalam semingu bisa meraup keuntungan 50 hinga 60 juta rupiah.

Hasil penelusuran Reporter Malukunews.co, Edhy Latuconsina, menyebutkan, sistim rendaman dengan menggunakan obat-obatan kimia ini, sebagian besar milik pengusaha di luar Maluku. Sebut saja seperti Haji Komar, Mantri Moel dan Nur alias Jenggot.

Sayangnya, ketiga pengusaha dan antek-anteknya di lapangan itu, selama ini tak pernah tersentuh hukum, karena diduga di back up oleh aparat. (Tim)